Jumat 19 Juli 2019, 13:00 WIB

Dewi Naga 'Nakee' Menjajal Peruntungan di Nusantara

Galih Agus Saputra | Weekend
Dewi Naga

IMDB
Salah satu adegan dalam film Nakee 2.

Sroi-Ubon (Urassaya Sperbund) ialah seorang perempuan muda yang hidup di sebuah desa di pelosok timur laut Thailand. Ia, bersama masyarakat di sekelilingnya, sangat terikat dengan kepercayaan akan adanya Nakee, sang Naga Agung. Kepercayaan itu menjadikan Sroi seorang pelayan kuil suci Dewi Naga sedari ia kecil.

Sementara itu, seorang perwira polisi dari kota, Pongprab (Nadech Kugimiya), baru saja dipindahtugaskan ke sana. Dalam patrolinya, ia kerap menemukan pembunuhan yang dibarengi peristiwa supranatural. Demi mencari jawaban atas misteri itu, ia kerap berhubungan dengan Sroi. Ia berusaha mati-matian untuk menemukan titik terang atas peristiwa yang diyakini masyarakat setempat sebagai 'kemurkaan sang Dewi Naga'.

Narasi di atas merupakan sinopsis dari film box office di Thailand, Nakee 2. Film itu mengukir rekor dengan perolehan 40 juta Baht (sekitar Rp18 miliar) di hari perdana penayangannya di bioskop 'Negeri Gajah Putih', 18 Oktober 2018. Nakee 2 juga sempat meraih beberapa nominasi penghargaan dalam gelaran '28th Suphannahong National Film Award' oleh Asosiasi Film Nasional Thailand dalam kategori 'Best Visual Effect', dan 'Best Makeup Effect'.

Film horror/thriller fantasi tersebut tengah mencoba peruntungannya dengan merambah bioskop Indonesia mulai 17 Juli 2019. Pertanyaannya, apakah sang Sutradara, Pongpat Wachirabunjong, dapat memancing 'kepanikan' dan 'ketakutan' penonton Tanah Air? Selain itu, sejauh mana ia akan berhasil mentransfer pengetahuan dari Thailand kepada penonton di Indonesia?

Nakee 2 barangkali dapat disebut sebagai obsesi Pongpat atas Phaya Naga. Dalam kosmologi Hindu dan Buddha, mahluk serupa ular raksasa itu dikenal sebagai mahluk setengah dewa dengan kekuatan supranatural. Masyarakat yang hidup di sepanjang sungai Mekong, mulai dari Laos hingga Thailand juga kerap mengaitkannya dengan penampakan Oarfish, atau ikan panjang berwarna merah, selain kerap menghubungkannya dengan 'fenomena bola api'.

Pongpat mencoba menyuguhkan proses semantik yang cukup menarik dalam kisah tersebut. Sroi dan Pongprab adalah kontrakdisi yang disuguhkannya, dimana ia hendak mengajak penontonnya untuk skeptis dengan legenda yang telah lama berkembang di sana.

Sroi di satu sisi sangat percaya dengan fenomena spiritual termasuk keberadaan sang naga, sementara di sisi lain Pongprab tampak larut dengan rasa penasarannya. Ketidakpercayaan baik terhadap mahluk gaib, mitos, atau legenda telah menuntun langkah kaki Pongprab untuk menelusuri berbagai macam simbol yang pada akhirnya juga menjadi tolok ukur jawaban atas investigasi pembunuhan yang dikerjakannya.

Plot cerita yang disusun Pongpat sebenarnya cukup menarik, walau penggambaran adegan-adegannya tidak meneganggkan hingga 'bulu kuduk berdiri'. Mahluk sprititual lebih banyak muncul menjelang akhir cerita –itupun tidak terlalu menyeramkan. Sementara itu, pada awal film penonton lebih banyak disuguhi dengan asal-usul legenda, dan serangkaian peristiwa pembunuhan yang berujung pada penelusuran pelakunya.

Putar otak
Perlu diakui bahwa, kerja keras sangat dibutuhkan untuk membawa suatu cerita, legenda dari satu kultur ke kultur lain. Transfer kebudayaan (cross culture understanding) perlu dilalui dan itu semua kadang kala harus menuntut sang sutradara memutar otaknya.

Cukup menarik, karena dalam film ini Pongpat telah mencoba menyiasatinya dengan gaya bertutur seorang nenek kepada cucunya. Namun, sayangnya, ada proses transfer yang tak sepenuhnya beresonansi.

Gaya bertutur demikian sebenarnya juga dapat kita temukan dalam film, misalnya, Jack The Giant Slayer (2013) garapan sutradara Bryan Singer. Dalam film itu, transfer kebudayaan begitu kentara, karena pada awal cerita ada seorang ayah yang bertutur kepada anaknya soal legenda raksasa, yang kemudian ditutup dengan mahkota sebagai simbol atau penegas legenda. Pongpat juga menerapkan pola yang sama, namun sayangnya ia tidak terlalu apik mengemas akhir cerita (ending)-nya.

Nakee 2 ditutup dengan Sroi dan Pongprab yang akhirnya membawa hubungan lebih jauh, setelah benar-benar mengalahkan sosok dewi antagonis yang mendadak muncul dalam plot. Selain itu, ia juga mengisahkan reikarnasi dari Dewi Naga sebelumnya (berwarna putih) dan pujaan hatinya di masa kini, yang itupun tidak terlalu menonjol aspek romantismenya. Tidak ada pesan simbolik yang cukup kuat dalam ending yang dibangun Pongpat, pada saat ia memiliki ide cerita, sinematografi, artistik, dan efek visual yang cukup bagus sebagai pendukungnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More