Kamis 18 Juli 2019, 10:15 WIB

Semester I, Laba Bersih Bank Mandiri Rp13,5 T

Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi
Semester I, Laba Bersih Bank Mandiri Rp13,5 T

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
(Dari kiri) Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Mandiri Alexandra Askandar, Direktur Manajemen Risiko Ahmad Siddik Badruddin, Direktur Bisnis

 

PT Bank Mandiri (persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp13,5 triliun atau tumbuh 11,1% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp12,2 triliun pada triwulan II atau semester I 2019. Pertumbuhan ini didorong perbaikan kualitas kredit dan penurunan non-performing loan (NPL).

"Capaian ini didorong pertumbuhan bisnis yang lebih sustain, ditandai dengan pertumbuhan rata-rata kredit bank only 12,1% year on year (yoy) atau mencapai Rp690,5 trilliun pada Juni 2019," tutur Direktur Bisnis dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi dalam Paparan Publik Kinerja Keuangan Triwulan II-2019 di Plaza Mandiri, Jakarta, kemarin.

Dia mengungkapkan, pencapaian laba bersih Bank Mandiri dikontribusikan kenaikan pendapatan bunga sebesar 14,85% yoy menjadi Rp44,5 triliun, penurunan biaya cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar 21,28%, serta diiringi dengan perbaikan kualitas kredit dan pengendalian biaya operasional yang mampu ditekan hingga tumbuh terkendali di single digit.

"Penurunan NPL gross menjadi 2,59% disebabkan pengendalian manajemen risiko dan perbaikan kualitas kredit di hampir seluruh segmen bisnis," jelasnya.

Rasio NPL gross ini merupakan level terendah yang dicapai sejak triwulan III-2015. Hery menambahkan, strategi pertumbuhan Bank Mandiri kini lebih mengutamakan sustainabilitas jangka panjang.

"Pengukuran kinerja tidak semata-mata diukur dari angka akhir periode (ending balance), melainkan menggunakan saldo rata-rata (average balance)," tuturnya.

Strategi ini terbukti efektif, dilihat dari pertumbuhan kredit rata-rata perseroan secara bank only yang tumbuh cukup baik yakni sebesar 12,1% yoy. Pertumbuhan tersebut ditopang dua segmen utama, yakni korporat dan retail yang fokus pada kredit mikro dan konsumer.

Pada Juni 2019 pembiayaan segmen korporat secara bank only tercatat tumbuh rata-rata 21,2% yoy dengan ending ba-lance konsolidasi mencapai Rp338,4 triliun.

Segmen micro banking secara bank only tumbuh rata-rata 23,6% yoy dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp110,4 triliun. Adapun kredit konsumer secara bank only tumbuh rata-rata 9,0% dengan ending balance konsolidasi mencapai Rp87,3 triliun.

"Untuk mengoptimalkan fungsi intermediasi perbankan, kami juga berupaya menjaga komposisi kredit produktif dalam porsi yang signifikan, yakni 77,4% dari total portofolio kredit Bank Mandiri dengan penyaluran kredit investasi mencapai Rp242,3 triliun dan kredit modal kerja mencapai Rp319,3 triliun," tandasnya.

Kredit tumbuh

Survei perbankan Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa pertumbuhan triwulanan kredit baru meningkat pada triwulan II-2019 dan triwulan III-2019.

Perkembangan tersebut tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) permintaan kredit baru pada triwulan II-2019 yang sebesar 78,3%, lebih tinggi jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 57,8%.

Berdasarkan jenis penggunaan, peningkatan tersebut terutama bersumber dari kredit investasi dan kredit konsumsi.

Menurut survei itu, pertumbuhan kredit baru itu didorong optimisme terhadap kondisi ekonomi yang menguat, dengan didukung kondisi politik dan keamanan yang stabil pasca-Pemilu 2019, dan risiko penyaluran kredit yang relatif rendah.

Sejalan dengan prakiraan pertumbuhan kredit baru, kebijakan penyaluran kredit pada triwulan III-2019 diperkirakan lebih longgar. Hal itu terindikasi dari indeks lending standard (ILS) sebesar 0,8%, lebih rendah jika dibandingkan dengan 12,4% pada triwulan sebelumnya. (Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More