Rabu 17 Juli 2019, 18:28 WIB

Kabut Asap Tipis Mulai Selimuti Palangkaraya

Surya Sriyanti | Nusantara
Kabut Asap Tipis Mulai Selimuti Palangkaraya

MI/Surya Sriyanti
Kabut asap menyelimuti Kota Palangkaraya, tahun lalu.

 

Kota Palangkaraya, Kalteng, sudah dua hari ini (16-17 Juli) diselimuti kabut asap tipis. Kabut tipis ini diduga akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di daerah pinggiran kota.

Kabut asap yang muncul sekitar pukul 05.00 WIB hingga pukul 10 WIB itu masih belum mengganggu aktifitas. Tetapi asap sudah memaksa sebagian masyarakat harus menggunakan masker penutup hidung saat beraktivitas di luar rumah pada pagi hari.

Dari pantauan di lapangan, Rabu (17/7) para pelajar yang berangkat ke sekolah harus mengenakan masker untuk menghindari bau asap. Para orangtua yang mengantarkan anak mereka berangkat sekolah nampaknya tak mau mengambil risiko buah hati mereka terserang penyakit.

Rahma, 33, warga Perumnas Baru mengatakan kabut asap yang mulai menyelimuti Palangkaraya dalam dua hari ini sangat mengganggu anak sekolah.

"Saya terpaksa mewajibkan anak-anak untuk selalu memakai masker saat sekolah dan melakukan aktifitas di luar rumah karena cuaca sedang tak baik,"ujarnya.

Terpisah, Gubernur Kalteng Sugianto Sabran mengatakan saat ini pihaknya sudah mengirimkan surat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar mengirimkan bantuan helikopter waterboombing guna melakukan pemadaman karhutla.

"Kita minta bantuan 10 unit helikopter dan kemungkinan nantinya akan yang dikirim sebanyak 6 unit," ujarnya.

Selain minta bantuan BNPB, dijelaskan gubernur, pihaknya juga meminta bantuan dari perusahaan yang berinvestasi ke Kalteng.  "Kita nanti juga melakukan komunikasi kasi dengan pengusaha agar bisa membantu," ujarnya.

Ia juga menghimbau agar masyarakat jangan membakar lahan secara sembarangan yang bisa mengakibatkan kebakaran hutan. "Karena ini nanti akan berdampak banyak seperti pendidikan dan ekonomi,"ujarnya. (SS/OL-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More