Rabu 17 Juli 2019, 08:25 WIB

Korban MOS di Palembang Diduga Bertambah

Dwi Apriani | Nusantara
Korban MOS di Palembang Diduga Bertambah

MI/Dwi Apriani
SMA Taruna Indonesia Palembang

 

KORBAN kekerasan pada masa orientasi siswa (MOS) di SMA Taruna Indonesia Palembang, Sumatra Selatan, diduga bertambah. Kali ini siswa bernama Wiko Jerianda, 16, yang tidak sadarkan diri dengan tubuh lebam sehingga harus dirawat di Rumah Sakit (RS) Karya Asih Charitas.

Sebelumnya polisi menetapkan pembina kegiatan MOS, Obi Frisman, 24, sebagai tersangka atas kematian siswa Delwyn Berli Juliandro, 14.

Dugaan bertambahnya korban penganiayaan terungkap dari laporan Suwito, 44, orangtua Wiko Jerianda, dan penga-caranya ke Polresta Palembang, kemarin, terkait dengan yang terjadi pada anaknya.

Seusai melapor, Suwito mengungkapkan, pada Sabtu (13/7) pukul 14.00 WIB ia mendapat kabar lewat telepon dari SMA Taruna Indonesia bahwa anaknya masuk RS Karya Asih Charitas. "Katanya anak saya sakit panas tinggi dan sudah ada di RS Karya Asih Charitas," ujar Suwito.

Saat ia tiba di RS, lanjutnya, kondisi Wiko sudah tak sadar. Hasil pemeriksaan dokter, perut korban bengkak dan ususnya terlilit sehingga harus dioperasi. Namun, seusai operasi hingga kini, Wiko tidak kunjung sadarkan diri.

Suwito menegaskan, sebelum ikut MOS anaknya dalam kondisi sehat. Namun, saat anaknya akan menjalani operasi, ia melihat di bagian belakang tubuh sang anak ada luka lebam seperti terkena pukulan. "Keadaanya sekarang sangat kritis. Sudah dipasang alat-alat di dadanya. Kami berharap semoga dia cepat sembuh dari masa kritis."

Ia juga menyatakan curiga atas dibawanya Wiko ke RS Jati Asih Charitas yang lokasinya jauh dari sekolah. Padahal, lokasi sekolah lebih dekat dengan RS Myria, rumah sakit yang sempat menangani korban Delwyn Berli Juliandro.

Kepala Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang Ipda Hasa membenarkan pihaknya mendapat laporan dari keluarga salah satu siswa SMA Taruna Indonesia secara lisan.

"Ada keluarga dari salah satu siswa SMA Taruna Indonesia Palembang datang untuk membuat laporan. Laporan korban tersebut kami terima secara lisan dan segera ditindaklanjuti," tegasnya.

Kapolresta Palembang Kombes Didi Hayamansyah mengatakan pihaknya masih mendalami dugaan adanya korban ataupun tersangka lain dalam kasus kekerasan di SMA Taruna Indonesia.

"Kami akan terus menyelidiki dan mendalami terkait meninggalnya korban Delwyn Berli. Tidak menutup kemungkinan ada pelaku lain dan korban lain," katanya.

Ia juga meminta mereka yang menjadi korban dalam MOS di sekolah tersebut untuk melapor ke Polresta Palembang. "Kami tunggu laporannya apabila masih ada yang menjadi korban lagi di sekolah tersebut," tegasnya.

Didi menerangkan, sampai saat ini Obi Frisman masih merupakan tersangka tunggal dalam kekerasaan saat MOS yang mengakibatkan Delwyn Berli Juliandro meninggal dunia. Dalam kasus tersebut kepolisian telah memintai keterangan 21 saksi, dari siswa, pembina, hingga pengawas saat malam kejadian.

Baru seminggu

Kepala SMA Taruna Indonesia Palembang, Tarmizi Endrianto, mengungkapkan untuk merekrut pembina MOS pihaknya menjaring beberapa pelamar. Salah satu yang lolos dalam penjaringan itu ialah Obi Frisman, yang kini menjadi tersangka kasus tewasnya Delwyn Berli Juliandro.

Saat MOS dimulai pada 7 Juli lalu, ujarnya, Obi baru bekerja satu minggu karena dia mulai bertugas pada awal Juli. Tarmizi menyerahkan kasus tersebut kepada polisi untuk mengungkap hingga tuntas.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Sumatra Selatan Widodo mengatakan SMA Taruna Indonesia menerapkan sistem semimiliter untuk membentuk karakter fisik dan mental siswa. (N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More