Rabu 17 Juli 2019, 03:20 WIB

Pola Makan Sehat Tentukan Masa Depan Anak

*/H-3 | Humaniora
Pola Makan Sehat Tentukan Masa Depan Anak

Grafis Seno
Ilustrasi

 

PEMERHATI pendidikan anak usia dini dan Founder Resourceful Parenting Indonesia dokter Andyda Meliala, mengutarakan, 90% otak manusia terbentuk pada usia 0-5 tahun.

Oleh karena itu, menanamkan kebiasaan dan pola makan yang sehat sejak dini akan membantu perkembangan kemampuan anak agar optimal meskipun anak-anak terkadang mengalami kesulitan makan.

"Usia 3-6 tahun menjadi dasar untuk membentuk kemampuan anak dan membentuk kebiasaan makan sejak kecil untuk fondasi masa depan," ujar Andyda saat ditemui Media Indonesia, di Kaum Jakarta, pekan lalu.

Ia menambahkan, pada usia dini anak harus mendapatkan stimulasi fungsi eksekutif otak yang akan membentuk order higher thinking, misalnya, problem solving dan reasoning.

"Fungsi eksekutif otak membuat perencanaan hingga pelaksanaan tugas mulai pengendalian diri, working memory, dan mental fexibility," imbuhnya. Salah satu cara meningkatkan working memory, contohnya, mendorong tiap-tiap anak mendongeng secara bergantian.

Menghadapi anak yang sulit makan juga bisa menggunakan berbagai cara, misalnya, menjadikan makan sebagai rutinitas dan menanamkan bahwa makan ialah kegiatan menyenangkan. "Bisa juga makan merupakan acara sosial, kan biasanya anak usia dini lebih menyukai makan bersama teman-temannya jika dibandingkan dengan makan sendiri," ujar Andyda.

Selain itu,  dokter spesialis gizi klinis dr Nurul Ratna Mutu Manikam, Mgizi, SpGK, mengungkapkan bahwa kebutuhan nutrisi yang diperlukan anak, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Jika anak mengalami kesulitan makan nasi, dapat diganti karbohidrat kompleks lain, misalnya, kentang dan ubi.

"Pola makan sangat penting karena dapat memperbaiki fungsi kognitif dan menjaga kecukupan hidrasi dengan minum susu dan air mineral untuk membantu konsentrasi dan daya ingat," jelasnya. Nurul menjelaskan, panduan makan untuk satu porsi makan anak ialah 3/4 porsi nasi, 1 porsi lauk, 1/2 porsi sayur, dan 1/2 porsi buah, serta susu difortifikasi DHA sebagai pemenuhan nutrisi lainnya, seperti omega 3 dan omega 6 serta zat besi.

Pola makan yang buruk, lanjut Nurul, akan menyebabkan anak mudah mengalami obesitas. Obesitas bisa disebabkan kebiasaan mengonsumsi kudapan manis secara berlebihan. Biasanya, anak yang sudah kenyang makan kudapan tidak ingin makan makanan utama lagi.

Obesitas juga dapat disebabkan kurang aktivitas fisik. Teknologi yg serbacanggih membuat anak lebih menyukai bermain di dalam ruangan dengan gawai.

"Pola diet yang baik untuk obesitas, antara lain pilihlah makanan yg sehat, hindari makanan yang manis, dan perbanyak bermain di luar ruang agar lebih aktif bergerak, seperti mengikuti taekwondo, futsal, menari, dan kegiatan lainnya,” ujarnya.

Pemain sinetron Ririn Dwi Ariyanti dalam acara yang sama menegaskan, persiapan bekal dan sarapan anak setiap pagi harus disiapkan dengan baik agar nutrisi sarapan pagi anak terpenuhi.

"Sarapan pagi anakku sederhana dan tidak ribet, tapi tidak akan dikasih makanan yang serbainstan. Sebisa mungkin makan masakan rumah," ujar Ririn. Ia mengaku anaknya suka membawa bekal susu ke sekolah.

Selain itu, pola makanan seimbang dengan nutrisi yang terpenuhi dengan baik sudah diterapkan dengan baik di keluarga perempuan yang sudah punya empat anak tersebut. "Anakku suka makan wortel digadoin.

Sayur dan buah dicemilin langsung. Jadi, ya tidak ada yang terancam obesitas," paparnya. Ririn terbiasa tidak menyediakan kudapan siap saji di rumah, justru ia membuat sendiri kudapan untuk si buah hati. (*/H-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More