Selasa 16 Juli 2019, 06:15 WIB

Senegal dan Aljazair ke Final

Widhoroso | Sepak Bola
Senegal dan Aljazair ke Final

AFP
Piala Afrika 2019, Senegal dan Aljazair ke final.

 

LAGA dramatis terjadi di dua semifinal Piala Afrika 2019 Mesir, kemarin dini hari. Dua gol bunuh diri mengantar dua tim kuda hitam, Senegal dan Aljazair ke laga final yang akan berlangsung, Jumat (19/7), di Stadion Internasional Kairo.

Di Stadion 30 Juni, Senegal menyingkirkan Tunisia dengan skor 1-0. Gol tunggal kemenangan Senegal terjadi di menit ke-101 masa perpanjangan waktu setelah pemain belakang Tunisia, Dylan Bronn, menjebol gawang sendiri.

Sementara itu, di Stadion Internasional Kairo, Aljazair secara mengejutkan menyingkirkan favorit juara Nigeria. Dua gol kemenangan Aljazair tercipta melalui bunuh diri bek Nigeria, William Troost-Ekong (40'), dan tendangan bebas Riyad Mahrez di masa injury time babak kedua, sedangkan satu gol Nigeria dicetak Odion Ighalo melalui penalti (70').

Bagi Senegal, ini menjadi final kedua di kompetisi sepak bola tertinggi di Benua Hitam. Senegal yang kini dibesut Aliou Cisse, sebelumnya pernah menembus final pada Piala Afrika 2002. Saat itu, tim berjuluk 'Singa Teranga' tersebut menyerah dari Kamerun melalui adu penalti.

Bagi Cisse dan Senegal, selain memiliki kesempatan merebut gelar pertama, menghadapi Aljazair di final menjadi kesempatan untuk membalaskan dendam. Di penyisihan Grup C, Sadio Mane dan kolega menyerah 0-1 dari Aljazair.

"Saya ucapkan selamat kepada Alain Giresse (pelatih Tunisia dan mantan Senegal) karena ia meninggalkan tim yang bagus untuk saya. Ia telah melakukan tugas dengan baik di timnas Senegal," ungkap Cisse.

Sementara itu, Giresse menyebut Senegal memang pantas lolos ke final. Menurut mantan pemain Prancis tersebut, di tangan Cisse, Senegal bisa memiliki kapasitas menjadi juara. "Saya pendukung Cisse. Ia bisa membawa Senegal juara," ungkapnya.

Faktor mental

Di sisi lain, Aljazair lolos ke final Piala Afrika untuk yang ketiga kali. Sebelumnya, tim berjuluk 'si Hijau' tersebut lolos ke final pada 1980 dan 1990. Pada 1980, Aljazair harus puas menjadi runner-up setelah dibekap Nigeria 0-3, sedangkan pada 1990, Aljazair sukses menjadi juara dengan menundukkan Nigeria 1-0.

"Kami sangat senang bisa lolos ke final karena ini merupakan sesuatu yang sangat spesial. Final ini untuk fan dan keluarga kami yang telah memberikan dukungan penuh. Menjadi impian kami untuk bisa mengangkat trofi juara dan berharap saja kami bisa mewujudkan itu," ungkap Mahrez.

Pelatih Aljazair Djamel Belmadi menilai faktor mental menjadi penentu tim asuhannya menyingkirkan Nigeria. Mahrez dan kawan-kawan disebut Belmadi telah menunjukkan perjuangan pantang menyerah hingga akhir pertandingan. "Kami menghadapi tekanan di 15 menit akhir. Setelah Nigeria mendapat penalti, para pemain memperlihatkan sikap yang sangat bagus dan kekuatan mental untuk terus bertarung hingga akhir. Kami akhirnya bisa mencetak gol kemenangan," tegasnya.

Sementara itu, pelatih Nigeria Gernot Rohr menyebut tim asuhannya lebih pantas lolos ke final daripada Aljazair. "Pertarungan berlangsung hingga menit akhir. Ini pertandingan yang bagus, tapi kami tersingkir secara menyakitkan," ungkap Rohr. (AFP/R-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More