Senin 15 Juli 2019, 15:30 WIB

Libur Panjang Hancurkan Kinerja Ekspor

Andhika Prasetyo | Ekonomi
Libur Panjang Hancurkan Kinerja Ekspor

ANTARA/Dhemas Reviyanto
Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

 

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Juni 2019 sebesar US$11,78 miliar.

Angka tersebut jauh lebih rendah dari capaian Mei 2019 yang kala itu mencapai US$14,87 miliar atau ada penurunan 20,54%.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pelemahan ekspor terjadi karena libur Lebaran yang terlalu lama yakni mencapai sebelas hari.

Selama tiga tahun terakhir, tren ekspor pada Juni memang selalu lebih rendah dari bulan sebelumnya. Itu tidak terlepas dari jatuhnya momen Idul Fitri pada bulan tersebut dan diterapkannya libur serta cuti bersama yang panjang oleh pemerintah.

Tercatat, pada tahun lalu, ekspor pada Juni tercatat US$12,98 miliar, merosot jauh dari Mei yang mencapai US$16,20 miliar.

Baca juga: Indonesia Upayakan Peningkatan Ekspor ke Kawasan Pasifik

Begitupun pada 2017 yang turun dari US$14,33 miliar ke US$11,66 miliar.

"Ini perlu diperhatikan agar libur Lebaran tidak menghambat kinerja ekspor. Tahun depan, Idul Fitri bergeser ke Mei, diprediksi penurunan kinerja juga akan ikut bergeser ke sana," ucapnya.

Selain faktor libur Lebaran, penurunan ekspor juga terjadi karena adanya pelemahan harga di tingkat global untuk komoditas-komoditas unggulan Tanah Air seperti batu bara dan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Suhariyanto mengungkapkan, sedianya, secara volume, ekspor batu bara dan CPO mengalami lonjakan 9% dan 7%. Hanya saja, nilai kedua komoditas itu turun 6% dan 18,13% sehingga lonjakan volume menjadi tidak berarti.

Secara kumulatif, angka ekspor Januari-Juni 2019 tercatat sebesar US$80,32 miliar. Lebih rendah 8,57% dibandingkan raihan periode yang sama tahun lalu yang menyentuh US$87,86 miliar. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More