Minggu 14 Juli 2019, 20:18 WIB

Pemerintah Tidak akan Ganti Rugi Beras Bulog yang Rusak

Andhika prasetyo | Ekonomi
Pemerintah Tidak akan Ganti Rugi Beras Bulog yang Rusak

Antara
Timbunan Beras di Gudang Bulog

 

PEMERINTAH tidak akan mengeluarkan biaya ganti rugi kepada Perum Bulog atas beras-beras yang mengalami penurunan mutu dan harus dibuang.

Sedianya, Kementerian Pertanian memiliki Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan CBP. Dalam beleid tersebut disebutkan bahwa cadangan beras pemerintah (CBP) harus didisposal atau dibuang apabila telah melampaui batas waktu simpan paling sedikit empat bulan atau berpotensi dan atau mengalami penurunan mutu.

Namun, aturan tersebut tidak didukung Kementerian Keuangan karena sampai sekarang kajian terkait anggaran ganti rugi atas beras turun mutu tidak kunjung selesai.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog Tri Wahyudi Saleh mengungkapkan, kendati tidak ada dukungan berupa anggaran, perseroan tetap harus membuang beras yang telah mengalami kerusakan.

"Kami tidak bisa menahan stok yang sudah tidak bisa disalurkan karena sangat berisiko mencemari lingkungan gudang," ujar Tri kepada Media Indonesia, Minggu (14/7).

Baca juga: Pascapertemuan Jokowi-Prabowo, Investor tidak Lagi Wait and See

Namun, untuk mengeliminasi beras yang rusak, dibutuhkan proses yang cukup panjang.

"Sesuai dengan regulasi yang ada, bila ada stok CBP yang berpotensi turun mutu, kami lakukan sortasi atau pemilihan," tuturnya.

Dari hasil sortasi itu, lanjutnya, akan didapat dua macam beras, yang pertama beras yang masih bisa direproses dan yang kedua beras yang sudah tidak bisa direproses atau harus dimusnahkan.

Saat ini, ia mengatakan ada 50 ribu ton beras di gudang Bulog yang sudah sangat berpotensi turun mutu.

"Beras CBP yang sudah tidak bisa dikonsumsi untuk pangan dan pakan akan kami usulkan ke Menteri Pertanian untuk kemudian dibahas dalam rakortas. Untuk melakukan disposal kami tetap harus melalui rakortas. Masalah penggantian nanti akan dibahas lebih lanjut," tandasnya.

Adapun, pengamat pertanian Dwi Andreas Santosa berpendapat beras yang disimpan dalam jangka waktu empat bulan masih memiliki kualitas yang baik. Namun, kualitas beras tersebut pun sangat bergantung pada kadar air dan sistem pengepakan yang dilakukan.

Menurutnya, Bulog pun sudah mempertimbangkan untung rugi sebelum memutuskan berbagai kegiatan baik menyimpan maupun mengeluarkan stok.

"Bulog pasti sudah mempertimbangkan karena mereka dituntut untuk untung,” ujar Dwi. (OL-8)

Baca Juga

Ist/Kementan

Nagreg Jadi Sentra Jagung Jabar dan Perputaran Uang Capai Rp 17 M

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:26 WIB
Pengembangan budidaya jagung melalui kawasan korporasi petani jagung di Kecamatan Nagreg, Bandung, Jabar, telah memberikan hasil nyata...
Antara/Rosa Panggabean

Nasabah Minna Padi Tuntut Pembayaran Berdasar NAB Pembubaran

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:11 WIB
Para nasabah berhak untuk pembayaran penuh sesuai dengan UU/POJK tentang Perlindungan Konsumen No....
ANTARA/Puspa Perwitasari

Pasar Menunggu, IHSG Memerah

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:00 WIB
Dibuka melemah, IHSG tak mampu beranjak dari zona merah hingga penutupan perdagangan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya