Minggu 14 Juli 2019, 08:05 WIB

Bakti Sosial Adhyaksa Bantu Percepat Program Pemerintah

Golda Eksa | Humaniora
Bakti Sosial Adhyaksa Bantu Percepat Program Pemerintah

MI/Golda Eksa
Jaksa Agung HM Prasetyo berbincang dengan 2 pasien katarak yang brobat di RS Panti Secanti, Kabupaten Tanggamus, Sabtu (14/7).

 

LANGKAH Korps Adhyaksa untuk membantu percepatan program pemerintah melalui pelbagai kegiatan sosial mendapat apresiasi dari sejumlah pihak. Upaya tersebut dinilai sangat positif guna mendukung percepatan kesejahteraan masyarakat di penjuru Tanah Air. Demikian pernyataan Jaksa Agung HM Prasetyo saat membuka kegiatan Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis di RS Panti Secanti, Kabupaten Tanggamus, Lampung, Sabtu (13/7). Acara tersebut merupakan rangkaian Hari Bhakti Adhyaksa ke-59 dan HUT XIX Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD).

Turut hadir Wakil Jaksa Agung Arminsyah, Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara Loeke Larasati, Ketua Umum IAD Pusat Ros Ellyana Prasetyo, Kepala Kejaksaan Tinggi Lampung Sartono, Kepala Pusat Penerangan Hukum Mukri, dan sejumlah pejabat utama di lingkup Kejaksaan Agung.

Prasetyo mengemukakan, kegiatan yang bertujuan untuk menyehatkan masyarakat itu tidak memandang suku, ras, dan agama. Siapapun penderita gangguan penglihatan, seperti katarak boleh mendaftar dan kemudian menjalani pengobatan secara cuma-cuma.

"Tujuannya untuk membantu sesama, termasuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan melalui upaya memelihara kesehatan masyarakat. Kita memang punya BPJS Kesehatan, tapi tentunya kita juga perlu memberikan dukungan dengan kerja nyata," kata Prasetyo.

Selama menjabat sebagai orang nomor satu di Korps Adhyaksa, Prasetyo mengaku rutin mengajak jajarannya menggelar kegiatan tersebut. Tercatat, sudah 18 ribu penderita katarak yang pulih. Walhasil, meraka pun bisa kembali menjalani rutinitasnya.

"Bahwa dengan operasi katarak yang kita lakukan ini setidaknya meringankan beban pemerintah. Apalagi kegiatan sosial ini juga mendapat dukungan dari para relawan, donatur, dan tim medis yang siap sedia membantu."

Melalui kegiatan itu, Kejaksaan RI berhasil membuka ruang untuk mendekatkan diri kepada masyarakat. Kejaksaan juga ingin mengubah stigma bahwa selain menangkap dan menahan orang berperkara, para jaksa pengacara negara juga aktif memberikan bantuan kepada masyarakat.

Kegiatan sosial itu, sambung dia, tidak melulu dilakukan jelang Hari Bhakti Adhyaksa. Namun, ketika ada masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan, kejaksaan bakal hadir untuk menjawab permintaan tersebut. Ia pun dapat memaklumi realitas itu. Alasannya karena biaya untuk menjalani pengobatan katarak cukup mahal, mencapai puluhan juta rupiah. Walhasil, tidak jarang masyarakat penderita gangguan penglihatan mengurungkan niat untuk menjalani pengobatan.

"Kesehatan merupakan penopang hidup nikmat dan sejahtera. Kesehatan sangat penting agar orang itu tidak tergantung orang lain, setidaknya bisa berbuat untuk diri sendiri dan membantu orang lain. Modalnya ialah harus sehat," terang dia.

baca juga: Jemaah Haji Indonesia Mulai Bergerak ke Mekah

Triastuti dan Theresia Suprapti, pasien penderita katarak yang menjalani pengobatan di RS Panti Secanti, mengaku tidak menyangka gangguan penglihatan yang selama ini diderita bisa pulih tanpa dibebani biaya. Dalam kegiatan itu ada 320 pasien yang sudah menjalani operasi.

"Saya tidak ada rencana operasi katarak karena enggak ada biaya. Sekarang saya sudah sembuh dan bisa beraktifitas lagi, mengurus suami untuk bertani," kata Triastuti, ibu 2 anak itu lirih. (OL-3)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More