Estetika Modernitas Brechtian dalam Baal

Penulis: Fathurrozak Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 22:52 WIB Weekend
Estetika Modernitas Brechtian dalam Baal

DKJ/Eva Tobing
Grup tari asal Bristol, Britania Raya Impermanence mementaskan karya Brecht berjudul Baal.

DALAM Djakarta Theater Platform tahun ini, grup tari asal Bristol, Britania Raya Impermanence mementaskan karya Brecht berjudul Baal. Baal merupakan karya drama pertama yang ditulis Brecht, sebagai peralihannya dalam menulis prosa dan puisi, dan yang tergolong dipentaskan ulang oleh kelompok kesenian. Salah satu produksi Baal yang tercatat, diperankan David Bowie pada 1982.

Impermanence menginterpretasikan karya Baal yang janggal itu dengan perpaduan koreografi tari, visualisasi naskah, dan pembacaan dialog serupa puisi. Empat penari secara bergantian membacakan dialog. Terkadang bertindak sebagai tokoh, namun sering juga menjadi narator dalam panggung.

Konsep bloking dengan latar artistik panggung minimalis bertumpu pada plot koreografi para aktor. Gerakan-gerakan tubuh yang lentur, dan taktis menjadi suguhan estetika dari naskah yang menyajikan gagasan keterasingan manusia modern yang dianut Brecht. Sepanjang pementasan yang berlangsung di Graha Bhakti Budaya, Jakarta Pusat pada Kamis, (11/7) ini memang tampaknya sengaja memberikan jarak antara aktor dan penontonnya.

Alih-alih melarutkan emosi penonton dalam bangunan cerita, Baal justru menghadirkan impresi kejanggalan dari karakter yang muncul. Ia dikarakterkan sebagai seorang sastrawan, kaum intelektual. Namun, dalam perjalanan kehidupannya itu, ia harus bergelut dengan intrik yang mungkin akan bertentangan dengan moral yang berlaku umum di masyarakat. Ia mengasingkan kekasihnya yang hamil, membunuh seorang teman, dan akhirnya ia terasing dalam hidupnya. Sebab penyangkalan-penyangkalan tanggung jawab personal.

Satu yang agak terasa mengganggu sebenarnya ialah tampilan dialog-dialog yang divisualkan dalam layar besar sebagai layar belakang panggung. Meski menjadi unsur estetika yang melengkapi, tetapi di sisi lain malah beberapa kali memerangkap mata kita untuk mengabaikan gerak tubuh aktor. Sangat disayangkan bila harus dialihkan perhatiannya dengan susunan kalimat yang bahkan beberapa kali sempat terasa 'tidak rapi' terjemahannya.

Impermanence mencoba membawa pengalaman estetika modernitas ala Brechtian yang mereka terjemahkan dalam koreografi bertumpuk dengan susunan dialog Baal. Menjadi pengalaman panggung lain untuk menikmati karya Brecht di luar bangunan plot linear. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More