Sabtu 13 Juli 2019, 07:05 WIB

AS Rencanakan Operasi Pengawalan Militer

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
AS Rencanakan Operasi Pengawalan Militer

Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP
Mark Milley

 

DEPARTEMEN Pertahanan Amerika Serikat (AS) tengah merundingkan rencana pengawalan militer untuk sejumlah kapal di Teluk. Hal itu merespons penyerangan terhadap kapal tanker minyak Inggris yang dilakukan beberapa kapal bersenjata milik Iran.

Calon Kepala Staf Gabungan ­usulan Gedung Putih, Jenderal Mark Milley menyatakan Washington berupaya menghimpun koalisi terkait pengawalan militer yang mencakup pengawalan angkatan laut untuk pengiriman komersial. “Saya pikir pembahasan ini akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan,” ujar Milley kepada Komite Layanan Bersenjata Senat AS.

Ketegangan di Teluk meningkat belakangan ini, yang dicerminkan anjloknya perekonomian Iran pascapenerapan sanksi dari AS. Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, memutuskan keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), atau dikenal dengan Perjanjian Nuklir 2015 yang bersifat multilateral.

Rangkaian peristiwa yang begitu cepat semakin mempersulit upaya Inggris dan sekutu Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir, terlepas dari penarikan diri AS.

Pernyataan Milley mengemuka setelah Inggris menuduh Iran telah mengerahkan tiga kapal militer yang menghambat perjalanan kapal tanker Bristish Heritage. “Kami sangat khawatir dengan tindakan ini, dan terus mendesak pemerintah Iran agar mengurangi ketegangan di kawasan,” pungkas juru bicara kantor Perdana Menteri (PM) Inggris.

Iran mengancam kapal tanker milik British Petroleum (BP), perusahaan migas asal Inggris, pada Rabu kemarin. Tindakan itu tampaknya sebagai balasan atas penyitaan kapal tanker Grace 1 Iran yang dilancarkan Inggris pada 4 Juli. Namun, Pengawal Revolusi Iran membantah terlibat dalam insiden yang menyasar kapal tanker Bristih Heritage.

Pengerahan kapal militer

Media Inggris melaporkan rencana pengerahan lebih banyak kapal angkatan laut Kerajaan Inggris ke wilayah Teluk, setelah insiden terbaru. Namun, seorang pejabat pemerintah Prancis menyebut pihaknya tidak berencana meningkatkan kehadiran armada militer di kawasan tersebut. “Prancis sedang melakukan pembatasan. Mengirim pasukan militer tambahan ke wilayah itu tampaknya tidak terlalu menguntungkan kami,” tutur sumber anonim kepada AFP.

Upaya bersama digadang-gadang akan mengulangi operasi pimpinan AS periode 1987-1988, yang melindungi kapal tanker minyak Kuwait dari serangan Iran dalam perang Iran-Irak.

Wakil Laksamana Jim Malloy, komandan Armada Kelima AS yang meliputi Timur Tengah, menuding Pengawal Revolusi melakukan ‘perampokan ilegal’ terhadap kapal Inggris.

“Kami terus berkoordinasi dengan Angkatan Laut Kerajaan, bersama dengan mitra regional dan global, dalam komitmen menjaga dan mempertahankan arus perdagangan bebas dan kebebasan navigasi,” tegasnya dalam pernyataan resmi.

Pengawal Revolusi Iran, organisasi keamanan yang kuat dan besar, menyatakan tidak ada konfrontasi dengan kapal asing dalam 24 jam terakhir. Akan tetapi, dalam suatu langkah yang berpotensi meningkatkan ketegangan, kepolisian Gibraltar mengumumkan penangkapan kapten India dan petugas dari kapal tanker Iran yang disita.(AFP/Tes/I-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More