Daya Pikat Media Cetak masih Besar

Penulis: (Ant/H-2) Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 22:00 WIB Humaniora
Daya Pikat Media Cetak masih Besar

ANTARA FOTO/Kornelis Kaha
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara

AKURASI, kedalaman, kemandirian, dan keseimbangan, masih merupakan kekuatan jual media massa dalam jangka panjang.

Dengan itu, media massa terutama media cetak bisa kembali memenangi kepercayaan publik dan membedakan dirinya dengan media sosial (medsos), yang tidak diwajibkan untuk memenuhi aturan pers.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, menegaskan hal itu saat berbagi pengalaman Indonesia soal kebebasan pers dalam Konferensi Global Kebebasan Media di London, Inggris, Kamis (11/7) waktu setempat.

“Apa yang sering terjadi sekarang adalah bahwa pers secara stylistically (gaya bahasa) seperti media sosial, baik dalam gaya presentasi maupun kurangnya akurasi,” kata Rudiantara.

Selain Menkominfo Rudiantara, pembicara lainnya yang dihadirkan ialah pendiri Swe, Frontier Myanmar, Myat (Sonny), Kepala Eksekutif organisasi berita online Rappler (Filipina) Maria Ressa, serta Menteri Komunikasi dan Multimedia Malaysia Gobind Singh.

Rudiantara menegaskan, kebebasan pers di Indonesia tidak lagi menjadi isu besar, tapi justru yang jadi masalah ialah bagaimana model bisnis dari media ke depan, dengan kehadiran medsos.

Mengutip survei Q3 Nielsen Consumer Media 2017, Menteri Rudiantara mengakui berita andal dan berita utama yang menarik ialah dua hal yang membuat pembaca tetap memilih koran. Sementara itu, untuk majalah atau tabloid, audiensi menantikan artikel seperti kisah nyata dan informasi mode. “Artinya, penonton media masih merindukan kehadiran sensasi yang agak kuno,” ujarnya.

Dalam bisnis, media massa memang terganggu seperti di bidang bisnis lainnya karena itu juga harus mencari model bisnis. Belum banyak solusi yang muncul untuk masalah penurunan sirkulasi media cetak, meskipun bisnis ini menyangkut kehidupan banyak orang dan menjadi masalah yang terlihat di depan mata.

“Sungguh luar biasa jika bisnis media cetak dapat berinovasi untuk mengambil gaya startup dalam menghadapi gangguan bisnis media,” imbuhnya.

Menyitir ucapan Clayton M Christensen, pencetus teori gangguan, Rudiantara mengatakan, teknologi yang mengganggu justru harus dianggap sebagai tantangan pemasaran. “Bukan satu teknologi, melainkan sumber daya manusia dan kompetensi yang dapat menciptakan inovasi pemasaran,” cetusnya.

Konferensi yang membahas isu perlindungan jurnalis dan media di London itu diikuti 1.000 peserta, termasuk menteri dan pejabat pemerintah, komunitas diplomatik, lembaga internasional, jurnalis, masyarakat sipil, dan akademisi.

Kebebasan media di negara-negara Asia Tenggara yang dipengaruhi undang-undang era kolonial, kepemilikan partai politik atas media, dan perubahan norma hubungan antara media dan lembaga demokrasi yang makin berkembang, menjadi pembahasan dalam konferensi tersebut.

Salah satu UU dari era kolonial yang masih digunakan untuk menekan pemberitaan ialah Rahasia Resmi Myanmar Act serta UU Percetakan dan Publikasi Malaysia. (Ant/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More