Kepedulian PT KNI pada Limbah Plastik Hasilkan Sarjana Kebidanan

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 19:45 WIB Nusantara
Kepedulian PT KNI pada Limbah Plastik Hasilkan Sarjana Kebidanan

Dok. PT. KNI
PT. KNI ikut menghadiri wisuda salah satu penggerak KSM Anggrek

PEMBEDAYAAN masyarakat sekitar lokais usaha PT. Kaltim Nitrate Indonesia (KNI) diwujudkan lewat pendirian Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Anggrek.

Lewat KSM Anggrek, PT. KNI mengedukasi masyarakat dalam memanfaatkan limbah karung pembungkus amonium nitrat yang sudah tidak terpakai sebagai bahan baku utama pembuat tas,

Dari hasil pembuatan tas tersebut, Hartono, Ketua KSM Anggrek sukses menyekolahkan anaknya hingga meraih gelar Sarjana Kebidanan di Politeknik Kesehatan Kalimantan Timur yang berada di bawah naungan Kementerian Kesehatan.

Goverment, Community Relation & GA Dept. Head. PT. Kaltim Nitrate Indonesia Rheza Zacharias K mengatakan, Hartono memiliki kesabaran dan keuletan dalam mengolah limbah plastik dan mendesainnya menjadi tas jinjing serta memasarkan sendiri hasil produksinya ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah.

Baca juga : Pelajaran Berharga Dari Studi Banding Pascatambang ke Jepang

"Usaha itu terbukti tak sia-sia dan kini membuahkan hasil yang membanggakan dimana anaknya Neni Wahyuni kini berhak menyandang gelar S1," kata Rheza dalam keterangan tertulisnya.

Melihat kesuksesan Hartono, Rheza mengatakan, pihaknya yang menjalankan usaha di Guntung, Bontang utara, Kota Bontang, Kalimantan timur, akan semakin memberi perhatian pada pemberdayaan masyarakat sekitar dan melakukan pendampingan yang berkelanjutan.

Seperti diketahui sebelumnya bekas kemasan atau karung pembungkus dari amonium nitrat yang dihasilkan oleh PT KNI sebelumnya memang menjadi limbah plastik yang tidak bernilai ekonomis dan dapat merusak unsur hara dalam kandungan tanah.

"Berawal dari program PNPM Mandiri pada 2012 lalu yang dibiayai oleh PT KNI dari alokasi dana CSR-nya, perusahaan terus fokus bagaimana mengelola limbah plastik menjadi berbagai aneka produk yang bernilai ekonomis," ujar Rheza.

Dengan digelontorkannya sejumlah dana CSR, pengadaan sarana dan prasarana, pembentukan Kelompok Swadaya Mandiri (KSN) serta berbagai pelatihan, lanjut Rahmat terus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan agar dapat mendaur ulang barang yang dirasa tidak bermanfaat menjadi souvenir dan tas kantong yang memiliki nilai jual.

Setelah melalui serangkaian proses yang panjang, pada 2018, KSM Anggrek telah berhasil mengolah limbah plastik sebanyak 16 ton menjadi tas daur ulang dengan harga jual yang berkisar Rp15.000 hingga Rp20.000. (RO/OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More