14 Kabupaten di Jateng Kekeringan

Penulis: Akhmad Safuan Pada: Sabtu, 13 Jul 2019, 03:20 WIB Nusantara
14 Kabupaten di Jateng Kekeringan

FOTO ANTARA/Idhad Zakaria
Seorang warga menimba air dari sumur galian di lahan persawahan miliknya yang mengering akibat kemarau

KEKERINGAN di Jawa Tengah meluas hingga melanda 14 daerah dari sebelumnya 10 kabupaten dan kota. ­Untuk menanggulangi kekeringan, disiapkan 1.000 tangki air bersih dan anggaran tidak terduga Rp23 miliar.

Ke-14 daerah yang kekeringan ialah Cilacap, Purbalingga, Banyumas, Purworejo, Klaten, Boyolali, Wonogiri, Blora, Pati, Grobogan, Temanggung, Pemalang, Tegal, dan Semarang. Padahal pada akhir Juni lalu hanya 10 daerah yang kekeringan.

Kekeringan akibat kemarau panjang, selain membuat warga kekurangan air bersih, juga mengakibatkan ribuan hektare sawah kesulitan air karena volume air di beberapa danau dan sungai me-nyusut. Volume air Rawa Pening di Kabupaten Semarang, misalnya, menyusut hingga 60%, Waduk Gunung Rowo di Kabupaten Pati menyisakan debit air 700 ribu meter kubik (m3).

“Debit air tersisa 700 ribu meter kubik sehingga tidak bisa meng-airi seluruh sawah di empat kecamatan di Pati, yakni Tlogowungu, Trangkil, Wedarijaksa, dan Juwana,” kata Operator Waduk Gunung Rowo, Dian Saputra, kemarin.

Begitu juga Waduk Sempor di Kabupaten Kebumen, kini hanya tinggal 2,1 juta m3 atau tinggal 5,5% dari volume optimal 38 juta m3. Akibatnya, waduk tidak lagi mengalirkan air untuk 6.478 hektare (ha) sawah.  

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Sudaryanto mengatakan, dengan meluasnya daerah yang kekeringan, pihaknya terus mengalirkan bantuan air bersih kepada warga di berbagai daerah itu. Suplai air bersih dilakukan daerah melalui BPBD setempat, instansi pemerintah, juga swasta.

Bahkan, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Jateng telah menyiapkan anggaran Rp320 juta untuk alokasi 1.000 tangki air bersih. Selain itu, tersedia anggaran tidak terduga Rp23 miliar yang dapat dikucurkan untuk menutup kekurangan.

Pemprov Jateng, lanjutnya, ­telah memetakan daerah rawan ­kekeringan yang diperkirakan melanda 1.319 desa pada 287 kecamatan di 31 kabupaten dan kota. Oleh karena itu, berbagai antisipasi dapat dilakukan untuk menekan kesulitan warga. “Dua juta warga terdampak kekeringan karena kemarau panjang diperkirakan hingga September mendatang,” ujarnya.

Tanggap darurat
Di Boyolali, salah satu dari 14 kabupaten yang kekeringan, krisis air bersih terjadi di 42 desa yang berada pada 8 kecamatan. Bahkan, bupati setempat telah mengeluarkan surat keputusan (SK) tanggap darurat penanggulangan kekeringan. Pemerintah daerah juga menyiapkan anggaran untuk penyediaan 628 tangki air bersih bagi puluhan ribu warga yang membutuhkan.

Untuk mengantisipasi keke-ringan, Pemerintah Kabupaten  Purbalingga telah merampungkan pembangunan jaringan air bersih di lereng timur Gunung Slamet. Jaringan air bersih itu dibangun dengan dana Rp2,24 miliar.

Sebagian daerah di Jawa ­Barat juga berpotensi mengalami keke-ringan ekstrem atau masuk kategori daerah dengan hari tanpa hujan (HTH) selama lebih dari 60 hari berturut-turut. Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung Tony Agus Wijaya, daerah yang terancam kekeringan ekstrem antara lain di wilayah utara Jabar, Cianjur selatan, dan Sukabumi selatan. (LD/WJ/DG/RF/RS/OL/FL/AD/BB/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More