Jumat 12 Juli 2019, 19:06 WIB

Masih Dipenjara, Nazaruddin Kembali Terkait Kasus Korupsi

Rahmatul Fajri | Politik dan Hukum
Masih Dipenjara, Nazaruddin Kembali Terkait Kasus Korupsi

ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin (kiri)

 

KOMISI Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin terkait dengan kasus suap jasa bidang pelayaran PT Pupuk Logistik Indonesia (PILOG) yang menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Selain Nazaruddin, KPK juga akan memeriksa dua saudara kandung Nazaruddin, yakni Muhajidin Nur Hasyim dan Muhammad Nasir.

Juru bicara KPK Febri Diansyah mengatakan Nazaruddin dijadwalkan akan diperiksa pada 9 Juli kemarin di Lapas Sukamiskin Bandung. Namun, Nazaruddin tidak jadi diperiksa, lantaran mengeluh sakit.

"Yang bersangkutan sakit dan tidak jadi diperiksa. Akan dijadwal ulang," kata Febri, melalui keterangan tertulis, Jumat (12/7).

Baca juga: Eks Bendahara Partai Demokrat Nazaruddin Dapat Remisi ke 14 Kali

Febri mengatakan saudara Nazaruddin, Muhajidin Nur Hasyim telah dijadwalkan untuk diperiksa pada 5 Juli lalu. Namun, Febri mengatakan Hasyim tidak hadir dan pihaknya akan menjadwal ulang pemanggilan.

"Pemanggilan kedua untuk jadwal pemeriksaan Senin, 15 Juli 2019. Kami ingatkan agar saksi hadir memenuhi kewajiban hukum ini," kata Febri.

Lebih lanjut, Febri mengatakan KPK juga telah memanggil saudara Nazaruddin lainnya, Muhammad Nasir. Anggota komisi VII DPR tersebut telah dipanggil sebagai saksi pada 1 Juli 2019. Febri mengatakan pihaknya akan menjadwalkan pemanggilan kembali. Namun, Febri tidak merinci ihwal jadwal pemeriksaan tersebut.

Febri menjelaskan tiga saudara tersebut akan diperiksa sebagai saksi atas tersangka staf PT Inersia, Indung, yang merupakan orang kepercayaan tersangka mantan anggota DPR RI Bowo Sidik Pangarso. Selain itu, Febri mengatakan KPK pemeriksaan tersebut untuk mendalami informasi terkait proses penganggaran dan sumber dana gratifikasi.

Febri mengatakan setelah KPK menjadwal ulang pemeriksaan, ia berharap Nazaruddin mampu bersikap kooperarid dan memenuhi jadwal pemeriksaan.

"Kami ingatkan agar para saksi bersikap koperatif dan memenuhi panggilan penyidik pada waktu yang ditentukan," kata Febri.

Seperti diketahui, Bowo Sidik ditetapkan menjadi tersangka kasus dugaan suap terkait kerja sama penyewaan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia (HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (PILOG).

Bowo diduga sudah menerima uang sebanyak enam kali dengan nilai mencapai Rp 221 juta dan 85.130 dollar Amerika Serikat. Pihak terduga pemberi suap adalah Marketing Manager PT HTK, Asty Winasti.

Uang itu diduga berkaitan dengan commitment fee untuk membantu pihak PT HTK menjalin kerja sama penyewaan kapal dengan PT PILOG. Penyewaan itu terkait kepentingan distribusi amonia. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More