BBKSDA NTT Siapkan Upacara Adat Sambut Pemulangan Kura-Kura

Penulis: Palce Amalo Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 19:20 WIB Nusantara
BBKSDA NTT Siapkan Upacara Adat Sambut Pemulangan Kura-Kura

MI/Palce Amalo
Danau Peto, habitat kura-kura leher ular, menyatu dengan lokasi persawahan Peto di Desa Maubesi, Kabupaten Rote Ndao, NTT

BALAI Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) bakal menggelar upacara adat saat pemulangan 28 kura-kura leher ular (Chelodina Mccordi) dari kebun binatang di Singapura ke habitatnya di Danau Peto, Desa Maubesi, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Upacara adat tersebut menjadi pedoman dalam pengelolaan kura-kura bersama ekosistemnya untuk mendukung perlindungan satwa langka tersebut.

Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan BBKSDA NTT Imanuel Ndun mengatakan pihaknya akan mengadopsi kearifan lokal yang berlaku di daerah setempat, seperti menyembelih kerbau yang dagingnya akan dimakan bersama dengan seluruh undangan.

"Misalnya daging kerbau dimakan bersama warga satu kampung, jika nanti ada yang melanggar akan dikenai denda adat satu ekor kerbau," kata Imanuel Ndun dalam acara 'Ngopi Bareng wartawan bersama BBKSDA NTT' di Kupang, Kamis (11/7).

Selain repatriasi atau pemulangan kura-kura leher ular, kegiatan yang melibatkan puluhan wartawan itu juga membahas pelepasan komodo, hari konservasi alam nasional dan festival Pulau Manipo.

Upacara adat ditempuh lantaran puluhan kura-kura leher ular yang pernah dilepasliarkan pada 2009 di Danau Peto, kini tidak ditemukan lagi. Ketika itu, sekitar tahun 1970-an, saat kura-kura leher ular belum ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi, kura-kura tersebut dijual bebas ke beberapa daerah termasuk ke luar negeri.

Baca juga: Kura-Kura Leher Ular Segera Direpatriasi ke Pulau Rote

Kondisi tersebut belakangan membuat populasi kura-kura di habitatnya punah.

"Orang-orang di luar negeri berhasil mengembangkannya, tetapi mereka punya komitmen mengembalikan sebagian atau 10% kembali ke habitatnya," tambahnya.

Menurut Imanuel Ndun, kura-kura dikembalikan ke alamnya untuk mempertahankan eksistensi satwa tersebut. Pada 2009, kura-kura leher ular dilepasliarkan oleh El Nusa, juga merupakan bagian dari komitmen mengembalikan 10% kura-kura yang dikembangbiakan ke alam.

Dia menduga kura-kura yang dilepasliarkan itu punah karena dimakan predator seperti ular, ikan gabus dan dampak kekeringan. Namun, sesuai
penelitian, di Rote masih ada tiga danau yang saat ini cocok untuk pengembangbiakan kura-kura leher ular yakni Danau Peto serta dua danau di Kecamatan Landu Leko yakni Danau Ledulu dan Lendo Oen.

Kepala BBKSDA NTT Timbul Batubara mengatakan Gubernur NTT Viktor Laiskodat telah mengeluarkan keputusan tentang Kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah Sebagai Habitat Kura-Kura Leher Ular di tiga danau tersebut sejak 18 Juni 2019. Dia menyebut saat ini tengah dilakukan negosiasi pemulangan kura kura leher ular.

"Nanti dari Singapura, kura-kura dikarantina dulu di Kupang," ujar Timbul.

Sesi berikutnya ialah memeriksa kesehatan kura-kura. Jika sehat, kura-kura dipindahkan ke lokasi yang akan dibangun mirip seperti habitat aslinya. Selama proses tersebut, lanjut Timbul Batubara, dipantau oleh dua pakar kura-kura dari Wildlife Conservation Society (WCS), termasuk mengunjungi habitat kura-kura di Pulau Rote. Perihal kematian kura-kura, Timbu menambahkan pemangsa juga berupa babi hutan dan pestisida.

"Proses ini agar jangan terjadi lagi kura-kura mati dan hilang," pungkasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More