Lubang Bekas Galian Pasir di Lembang Disulap Jadi Kolam Renang

Penulis: Depi Gunawan Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 19:00 WIB Nusantara
Lubang Bekas Galian Pasir di Lembang Disulap Jadi Kolam Renang

MI/Depi
Sejumlah anak berenang di Kolam renang Si Bolang Ngojay di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat

LUBANG bekas galian pasir yang menyerupai kubangan di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, disulap menjadi kolam renang. Hal ini lantaran di wilayah tersebut sarana hiburan anak-anak terbilang kurang.

Lokasinya yang berada di kawasan padat penduduk di Kampung Babakan Ampera, Desa Jayagiri, Lembang, membuat anak-anak senang. Apalagi, saat ini sedang liburan sekolah, sehingga ada kesenangan tersendiri bermain air.

"Senang ada kolam renang di sini, jadi enggak harus jauh-jauh pergi ke Lembang kalau mau berenang. Tarifnya juga murah, sekali renang cuma bayar Rp3.000," kata seorang bocah kelas 4 SD, Faisal, 13, di Lembang, Jumat (12/7).

Menurut pengelola kolam renang, Rukmini, sebelum menjadi kolam renang anak, tempat tersebut adalah area bekas penggalian tanah. Setelah aktivitas penggalian terhenti, lubang bekas galian dibiarkan.

"Ternyata bekas galian itu disukai anak-anak, para bocah meminta bekas galian diisi air biar mereka bisa renang," kata Rukmini.

Keinginan mereka akhirnya terwujud, sekitar tahun 2018, pemilik lahan yang juga saudara kandung Rukmini bernama Dede berinisiatif membuat kolam sederhana bagi anak-anak di Kampung Babakan Ampera agar bisa berenang gratis.

Baca juga: Petani Tomat Lembang Rugi Besar

Terlebih, sebelum ada kolam renang, dia melanjutkan, anak-anak di sekitar rumahnya sangat kecanduan terhadap gawai.

"Lumayan ada hiburan anak-anak. Daripada main handphone kan lebih baik disalurkan dengan berenang. Anak-anak juga jadi senang," ujarnya.

Karena semakin banyak bocah yang datang, Dede kemudian merombak kolam agar lebih luas. Apalagi, Dede akan segera pensiun dari pekerjaannya sebagai PNS sehingga dia memiliki kesibukan di rumah dengan membangun kolam renang pribadi.

"Tempat ini dibuka awal tahun 2019, dinamai kolam renang Si Bolang Ngojay. Kadang yang berenang bukan hanya warga sini saja, anak-anak dari kampung lain juga suka datang kemari," ungkap Rukmini.

Rukmini menceritakan kisah menarik ketika membangun kolam renang yakni Dede menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah atau kira-kira harus menjual sekitar 14 ekor sapi miliknya. Mahalnya biaya lantaran ongkos angkut material bangunan harus menggunakan ojek sepeda motor.

"Soalnya, mobil tidak bisa masuk ke sini. Sehingga, untuk mengangkut material harus pakai ojek motor. Untuk satu kali antar semen saja, ongkosnya sampai Rp10.000," tuturnya.

Di area kolam Si Bolang Ngojay terdapat tiga kolam dengan kedalaman berbeda dari 500 meter hingga 1,5 meter.

"Selain menjadi arena bermain air untuk anak, ibu-ibu pun setiap sore sering meramaikan kolam ini," tandasnya.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More