Jumat 12 Juli 2019, 16:45 WIB

AS Rencanakan Operasi Pengawalan Militer Pascaserangan Iran

Tesa Oktiana Surbakti | Internasional
AS Rencanakan Operasi Pengawalan Militer Pascaserangan Iran

AFP
Calon Kepala Staf Gabungan usulan Gedung Putih, Jenderal Mark Milley

 

DEPARTMEN Pertahanan Amerika Serikat (AS) tengah merundingkan rencana pengawalan militer untuk sejumlah kapal di Teluk. Hal ini merespons penyerangan terhadap kapal tanker minyak Inggris yang dilakukan beberapa kapal bersenjata milik Iran.

Calon Kepala Staf Gabungan usulan Gedung Putih, Jenderal Mark Milley, menyatakan Washington berupaya menghimpun koalisi terkait pengawalan militer, yang mencakup pengawalan angkatan laut untuk pengiriman komersial.

Baca juga: Dubes Jepang Gunakan Medsos untuk Jangkau Generasi Muda

"Saya pikir pembahasan ini akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan," ujar Milley kepada Komite Layanan Bersenjata Senat AS.

Ketegangan di Teluk meningkat belakangan ini, yang dicerminkan anjloknya perekonomian Iran pascapenerapan sanksi dari AS.

Sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, memutuskan keluar dari Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), atau dikenal perjanjian nuklir 2015 yang bersifat multilateral. Rangkaian peristiwa yang begitu cepat semakin mempersulit upaya Inggris dan sekutu Eropa untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir, terlepas dari penarikan diri AS.

Pernyataan Milley mengemuka setelah Inggris menuduh Iran telah mengerahkan tiga kapal militer yang menghambat perjalanan kapal tanker Bristish Heritage.

"Kami sangat khawatir dengan tindakan ini, dan terus mendesak pemerintah Iran agar mengurangi ketegangan di kawasan," pungkas juru bicara kantor Perdana Menteri (PM) Inggris.

Iran mengancam kapal tanker milik British Petroleum (BP), perusahaan migas asal Inggris, pada Rabu kemarin. Tindakan itu tampaknya sebagai balasan atas penyitaan kapal tanker Grace 1 Iran yang dilancarkan Inggris pada 4 Juli lalu. Pengawal Revolusi Iran membantah terlibat dalam insiden yang menyasar kapal tanker Bristih Heritage. Namun, mereka menyebut AS dan Inggris harus menyesali aksi penahanan kapal tanker Iran, yang membawa muatan dari Gibraltar. Sebab, itu melanggar sanksi terhadap Suriah yang diketahui menjadi penerima kargo.

Sebelumnya, Washington dan Riyadh menyalahkan Iran karena diduga menggunakan ranjau limpet untuk melubangi badan kapal di kawasan Teluk. Bahkan, Trump hampir memerintahkan serangan balasan terhadap Iran. Sejauh ini, para pejabat Inggris dan Prancis belum mengonfirmasi pembahasan rencana operasi pengawalan kapal tanker. Seperti AS, kedua negara mempertahankan kehadiran angkatan laut di wilayah Teluk. Akan tetapi, Inggris dan Prancis enggan bergabung dalam operasi dengan tekanan maksimum, yang digulirkan AS terhadap Iran.

Media Inggris melaporkan rencana pengerahan lebih banyak kapal angkatan laut Kerajaan Inggris ke wilayah Teluk, setelah insiden terbaru. Namun, seorang pejabat pemerintah Prancis menyebut pihanya tidak berencana meningkatkan kehadiran armada militer di kawasan tersebut.

"Prancis sedang melakukan pembatasan. Mengirim pasukan militer tambahan ke wilayah itu tampaknya tidak terlalu menguntungkan kami," tutur sumber anonim kepada AFP.

Upaya bersama digadang-gadang akan mengulangi operasi pimpinan AS periode 1987-1988, yang melindungi kapal tanker minyak Kuwait dari serangan Iran dalam perang Iran-Irak.

Kepada media, beberapa sumber pertahanan Inggris mengungkapkan armada kapal Pengawal Revolusi Iran berupaya melakukan penghentian pertama, dan kemudian mengalihkan kapal tanker ke wilayah pantai Iran. HMS Montrose, sebuah kapal fregat Angkatan Laut Kerajaan Inggris, mengarahkan senjata ke arah kapal-kapal Iran, serta menyampaikan pesan "gencatan dan berhenti" melalui radio.

Wakil Laksamana Jim Malloy, komandan Armada Kelima AS yang meliputi Timur Tengah, menuding Pengawal Revolusi melakukan "perampokan ilegal" terhadap kapal Inggris.

"Kami terus berkoordinasi dengan Angkatan Laut Kerajaan, bersama dengan mitra regional dan global, dalam komitmen menjaga dan mempertahankan arus perdagangan bebas dan kebebasan navigasi," tegasnya dalam pernyataan resmi.

Baca juga: Sekjen PBB Kecam Serangan Udara yang Hantam RS di Suriah

Pengawal Revolusi Iran, organisasi keamanan yang kuat dan besar, menyatakan tidak ada konfrontasi dengan kapal asing dalam 24 jam terakhir. Akan tetapi, dalam suatu langkah yang berpotensi meningkatkan ketegangan, kepolisian Gibraltar mengumumkan penangkapan kapten India dan petugas dari kapal tanker Iran yang disita.

Inggris dan negara-negara Eropa lainnya berusaha mempertahankan perjanjian nuklir 2015 dengan menetapkan mekanisme perdagangan independen, untuk menghindari sanksi AS terhadap Iran. Meski AS keluar dari perjanjian, Iran mematuhi kesepakatan. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, Teheran memutuskan untu meningkatkan pengayaan uranium sebagai tanggapan. Mereka pun dengan sadar melanggar komitmennya di bawah pakta JCPOA, dengan harapan dapat menghentikan langkah pemerintahan Trump. (AFP/OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More