10 Tokoh Raih Penghargaan Kalpataru 2019

Penulis: Dhika Kusuma Winata Pada: Jumat, 12 Jul 2019, 07:50 WIB Humaniora
 10 Tokoh Raih Penghargaan Kalpataru 2019

Medcom.id/Husen Miftahudin
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyerahkan penghargaan Kalpataru 2019 kepada 10 tokoh dan kelompok masyarakat yang berperan aktif menjaga hutan.

WAKIL Presiden Jusuf Kalla menyerahkan penghargaan Kalpataru 2019 kepada 10 tokoh dan kelompok masyarakat yang berperan aktif menjaga hutan dan lingkungan. Penghargaan itu menjadi rekognisi bagi para pejuang lingkungan yang diberikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Hutan menjadi sumber utama untuk memperbaiki lingkungan. Terima kasih kepada tokoh-tokoh yang sudah berkontribusi memperbaiki lingkungan, khususnya memperbaiki hutan dan menambah hutan," kata Kalla seusai pemberian penghargaan yang digelar pada Pekan Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta, kemarin.

Wapres menegaskan lingkungan hidup merupakan salah satu perhatian dunia selain kasus demokrasi dan hak asasi manusia (HAM). Ketiganya merupakan satu kesatuan yang diperjuangkan negara-negara di berbagai belahan dunia.

Lingkungan hidup perlu menjadi perhatian karena punya efek yang besar terhadap kehidupan manusia. Lingkungan hidup berkaitan erat dengan ekologi kehutanan. "Banjir dan kekeringan ialah dua hal yang penyebabnya satu, yaitu masalah hutan. Ini akibat berkurangnya luas hutan kita," ujarnya.

Penghargaan Kalpataru 2019 diberikan kepada 10 tokoh dan kelompok masyarakat yang terbagi atas kategori Perintis Lingkungan, Pengabdi Lingkungan, dan Penyelamat Lingkungan.

Kalpataru kategori Perintis Lingkungan diraih Lukas Awiman Barayap dari Kabupaten Manokwari, Sucipto dari Kabupaten Lumajang, Eliza dari Kabupaten Sumbawa Barat, dan Nurbit dari Kabupaten Bulungan.

Penerima penghargaan kategori Pengabdi Lingkungan ialah Meilinda Suriani Harefa dari Kota Medan, M Hanif Wicaksono dari Kabupaten Balangan, dan Baso dari Kabupaten Jeneponto.

Untuk kategori Penyelamat Lingkungan diraih Kelompok Masyarakat Dayak Iban Menua Singai Utik dari Kabupaten Kapuas Hulu, Kelompok Pengelola Hutan Adat Depati Kara Jayo Tuo Desa Rantau Kermas dari Kabupaten Merangin, dan Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari dari Kabupaten Badung. (Dro/Dhk/X-10)

 

Berita terkait halaman 10 & 16                                                    

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More