Petani Nganjuk Sukses Gabungkan Budi Daya Bawang dan Lele

Penulis: mediaindonesia.com Pada: Kamis, 11 Jul 2019, 21:01 WIB Advertorial
Petani Nganjuk Sukses Gabungkan Budi Daya Bawang dan Lele

Dok Kementan
Petani Nganjuk Sukses Gabungkan Budi Daya Bawang dan Lele

PETANI di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur memakai metode yang unik dalam membudidayakan bawang merah, yakni dengan menggabungkan usaha tani bawang merah dengan ikan lele.

Petani setempat menyebutnya metode bamele alias bawang merah dan lele. Hasilnya, luar biasa. Petani bisa menikmati keuntungan ganda, sebab keuntungan tidak hanya dari hasil bawang merah, tapi juga dari panen lele.

Susanto, petani asal Dusun Padangan Desa Banaran Kulon, Kecamatan Bagor Kabupaten Nganjuk, merupakan salah satu petani yang mencoba teknik bamele di lahan miliknya.

Baca juga: Populasi Ternak Masuki Era Digitalisasi

Ia mengaku tujuan awal bamele tersebut selain meningkatkan pendapatan petani, juga mengajak petani berbudi daya yang sehat dan ramah lingkungan.

"Ini cara budi daya nonpestisida, tidak pakai bahan kimia karena di bawahnya ada lele. Untuk pengendalian hama kami gunakan lampu light thrap dan pengendali hayati. Jadi produk bawang merah kami sehat dan aman dikonsumsi. Buktinya, ikan lele bisa hidup dengan baik," demikian kata Susanto kepada Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi bersama rombongan saat mengunjungi lahan miliknya, Kamis (11/7)

Menurut Susanto, budi daya dengan metode bamele sangat sederhana dan benar-benar mengoptimalkan lahan. Dalam parit atau got lahan bawang merah berukuran lebar 40 sentimeter, bisa ditebar bibit lele berukuran diameter kepala 6 sampai 7 milimeter sebanyak 132 ribu ekor per hektare. Umur pemeliharaan lele sama dengan umur panen bawang merah yaitu 60 sampai 70 hari.

"Hasilnya sangat memuaskan, bisa dipanen bawang merah kelas organik 16 hingga 17 ton per hektare plus 10 ton lele. Harganya saat ini juga lagi bagus. Bawang merah varietas tajuk di petani dihargai Rp16 ribu per kilogram, sementara lele Rp15 ribu per kilogram. Sangat menguntungkan," ungkapnya.

Direktur Jenderal Hortikultura Suwandi sangat mengapresiasi cara unik dan inovatif petani Nganjuk dalam berbudi daya bawang merah yang ramah lingkungan menggunakan teknik bamele. Pasalnya, metode budi daya bamele ini sangat menarik, bisa memberi keuntungan berlipat bagi petani maupun lingkungan secara umum.

Petani menerapkan budi daya nonpestisida, cukup mengandalkan lampu perangkap hama (light thrap) untuk mengatasi hama dan saluran air menjadi lebih terjaga karena diisi lele.

"Hasil panen keduanya juga sehat dan aman dikonsumsi, pendapatannya dobel, bisa ratusan juta per hektare. Jadinya multipurpose. Ini juga sesuai dengan visi Ditjen Hortikultura yang memang mengedepankan aspek budi daya ramah lingkungan," ujarnya.

"Ini contoh kreativitas pola integrasi selama ini hanya dikenal mina-padi, sekarang sudah ada mina-cabai, mina-bamer dan lainnya. Tiap daerah punya kearifan lokal dan cara sendiri dalam berbudi daya bawang merah. Silakan saja petani berimprovisasi. bamele ini patut dicontoh sentra bawang merah lainny," imbuh Suwandi.

Kepala Dinas Pertanian Nganjuk Judi Ernanto mengatakan luas areal tanam bawang merah Kabupaten Nganjuk sekitar 14.000 hektare dengan produksi tahun lalu mencapai 152 ribu ton. Nganjuk menjadi sentra bawang merah terbesar di Jawa Timur dan ketiga di Indonesia setelah Brebes dan Bima.

"Bamele ini inspirasinya dari bupati yang menginginkan bawang merah Nganjuk diproduksi secara ramah lingkungan. Kita ingin produksi bawang merah Nganjuk bisa berkelanjutan dan bermutu. Sesuai arahan bupati, kami akan replikasi dan kembangkan teknologi bamele ini ke seluruh Nganjuk. Targetnya hingga 14 ribu hektare bisa dipenuhi," tukasnya. (RO/X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More