Inpres Penanganan Pandemi Perkuat Koordinasi Antar-Instansi

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Kamis, 11 Jul 2019, 17:22 WIB Humaniora
Inpres Penanganan Pandemi Perkuat Koordinasi Antar-Instansi

Antara/Galih Pradipta
Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono

PRESIDEN Joko Widodo telah menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) No. 4/2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespon Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kdaruratan Nuklir, Biologi dan Kimia. Inpres tersebut diharapkan semakin memperkuat koordinasi lintas kementerian apabila terjadi wabah atau pandemi.

"Sekarang sudah jadi instruksi. Koordinasinya semakin kuat. Kalau sudah ada instruksi peran Kemenko PMK menugaskan itu mengoordinasikan antarkementerian dibawahnya," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Penanganan Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Kamis (11/5).

Tidak hanya Kemenko PMK yang bertugas mengordinasikan lintas kementerian/lembaga, Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan HAM juga turut terlibat mendorong kementerian/lembaga yang berada di bawahnya untuk meningkatkan kapasitas dalam merespon, mencegah, dan mendeteksi potensi kedaruratan kesehatan bagi masyarakat. Anung menyontohkan dalam penanggulangan penyakit yang berpotensi pandemi seperti flu burung, tidak hanya sektor kesehatan yang berperan.

"Misalnya flu burung seolah-olah hanya sektor kesehatan saja, padahal isu lingkungan juga masuk didalamnya. Kalau ada burung liar yang migrasi ke Indonesia, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bertanggung jawab," terang Anung.

Baca juga: Pendaftar Calon Anggota Komnas Perempuan Masih Minim

Saat ini, imbuhnya, beleid tersebut tengah disosialisasikan secara internal antara kementerian/lembaga. Menteri Kesehatan Nila F.Moeloek sempat menyampaikan dalam forum pertemuan tingkat menteri Global Health Security Agenda (GHSA) di Bali, akhir tahun lalu bahwa peningkatan mobilitas manusia dan hewan lintas negara karena globalisasi berkontribusi mempercepat penyebaran wabah menjadi ancaman kesehatan global. Selain itu, peningkatan resistensi antimikroba telah mendorong makin banyaknya penyakit-penyakit baru maupun penyakit lama yang berpotensi pandemik.

Ia juga mengatakan ancaman pandemi secara luas dapat berdampak pada banyak sektor. Data Bank Dunia menunjukkan kerugian ekonomi akibat wabah ebola di kawasan Afrika secara keseluruhan mencapai US$30 miliar (sekitar Rp440 triliun). Karena itu setiap negara termasuk Indonesia, perlu meningkatkan kapasitas dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai ancaman penyakit menular berpotensi wabah, termasuk menguatkan koordinasi lintas sektor. (OL-8)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More