Kamis 11 Juli 2019, 09:40 WIB

Jakarta Butuh 933 Bengkel untuk Uji Emisi

mediaindonesia | Otomotif
 Jakarta Butuh 933 Bengkel untuk Uji Emisi

ANTARA/GALIH PRADIPTA/FOC
Petugas Sudin Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan uji emisi kendaraan bermotor di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Sabtu (6/7).

INDEKS kualitas udara atau air quality index (AQI) Kota Jakarta berada di angka 145. Angka tersebut menjadikan Jakarta masuk kategori tidak sehat. Peringkat pertama dan kedua AQI terburuk ialah Dhaka (Bangladesh) dan Dubai (Uni Emirat Arab), yaitu 150 dan 147.

Rentang nilai AQI ialah 0-500. Semakin tinggi nilai AQI, semakin parah tingkat polusi udara di kota tersebut dan efeknya pun semakin berbahaya.

AQI dihitung berdasarkan lima polutan udara utama, yaitu ozon tingkat dasar, polusi partikel, karbon monoksida, sulfur dioksida, dan nitrogen dioksida. Kategori sangat tidak sehat berada pada rentang nilai AQI 200-300. Kondisi itu dinilai dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.

Penyebab utama buruknya kualitas udara Jakarta ialah transportasi. Walau pemerintah terus memperbaiki sarana transportasi umum, masyarakat Kota Jakarta dan sekitarnya masih banyak menggunakan kendaraan pribadi.

"Sumber utama kotornya udara di Jakarta adalah transportasi, bisa mencapai 75%. Saat ini ada 3,5 juta kendaraan bermotor di Jakarta. Jadi, dalam setahun kita bisa melakukan dua kali uji emisi dengan perhitungan satu bengkel melayani 25 mobil dalam sehari," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan DKI Jakarta, Andono Warih, di Jakarta, Senin (8/7).

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan kualitas udara ialah menjaga level gas buang dari kendaraan bermotor di tingkat rendah. Untuk itu, Andono menargetkan sebanyak 933 bengkel otomotif uji emisi untuk memuluskan rencana Jakarta bebas polusi udara pada 2020.

Ia memperkirakan ada 7 juta kendaraan roda empat masuk bengkel otomotif uji emisi selama setahun. Saat ini baru ada 155 bengkel otomotif pelaksana uji emisi.

Terkait dengan hal itu, pihaknya akan bekerja sama dengan pemilik bengkel otomotif dan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk memenuhi sisa kebutuhan 700-an bengkel otomotif dengan fasilitas uji emisi. "Kami sudah sosialisasikan ide ini dengan pengusaha-pengusaha bengkel dan SPBU agar melengkapi usaha mereka dengan fasilitas uji emisi kendaraan sehingga memudahkan masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kebersihan udara kotanya sendiri," jelasnya.

Andono menambahkan, saat ini pihaknya juga telah memiliki uji emisi berbasis aplikasi Android yang dapat diunduh dari Play Store.

Melalui aplikasi tersebut, pengguna kendaraan bermotor dapat melakukan registrasi kendaraan yang terintegrasi dengan bengkel otomotif uji emisi dan unit-unit pengelola parkir. "Begitu kendaraan masuk ke area parkir, bisa langsung terdeteksi apakah kendaraan tersebut sudah lulus uji emisi atau belum. Kalau belum lulus, kendaraan itu mendapat disinsentif dari tarif atau lokasi," ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, berencana membuat kebijakan untuk memberatkan tarif parkir kendaraan yang tidak melakukan uji emisi. (Ant/S-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More