Rabu 10 Juli 2019, 21:40 WIB

Populasi Ternak Masuki Era Digitalisasi

mediaindonesia.com | Advertorial
Populasi Ternak Masuki Era Digitalisasi

Dok Kementan
Populasi Ternak Masuki Era Digitalisasi

PUSAT Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementerian Pertanian (Kementan) tengah membangun digitalisasi pendataan populasi ternak seperti sapi, kerbau, dan ayam secara daring. Hal itu adalah upaya mewujudkan pembangunan pertanian milenial berbasis teknologi 4.0.

Kepala Sub Bagian Data Peternakan dan Perkebunan Akbar Yasin menjelaskan digitalisasi pendataan populasi ternak ini merupakan salah satu pemanfaaatan teknologi informasi dalam sektor peternakan.

Pasalnya, pengumpulan data populasi ternak selama ini dilakukan secara manual dan berjenjang oleh petugas kabupaten, provinsi, dan pemerintah pusat atau menggunakan perhitungan populasi ternak berdasarkan dinamika populasi ternak hasil survei ongkos usaha ternak yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS).

"Cara lama pengumpulan dan perhitungan populasi ternak secara manual, akan diganti dengan menggunakan pendataan populasi ternak secara online. Sesuai arahan Bapak Menteri Pertanian, kita harus membangun pertanian berbasisi teknologi 4.0. Pertanian dijalankan dengan teknologi modern. Hasilnya pendataan dipastikan lebih akurat, update dan dilakukan dengan cepat. Dengan data yang update dan akurat kita bisa secepatnya mengetahui dan memecahkan masalah sehingga peternakan kita segera maju," jelas Akbar di Jakarta, Rabu (10/7).

Lebih lanjut pria jebolan magister IPB ini mengungkapkan pendataan populasi ternak secara online untuk merespon kebutuhan data populasi ternak yang aktual, kekinian dan akurat sesuai dengan kepemilikan ternak berdasarkan by name by adress peternak. Kemudian, memudahkan pemetaaan sentra-sentra peternakan rakyat maupun swasta sehingga ketersediaan produksi daging akan menjadi lebih terukur.

"Dalam pendataan populasi ternak secara online ini , data dikumpulkan langsung dari peternak dan dilaporkan secara online melalui sistem informasi sistem kesehatan hewan nasional (Ishiknas) oleh 9.277 petugas kesehatan hewan atau inseminas buatan di kecamatan seluruh Indonesia," ungkapnya.

Baca juga: Lembaga Pertanian NU Jajaki Ekspor Bunga Krisan ke Jepang

Sistem Ishiknas telah digunakan sejak 2012 untuk melaporkan penyakit hewan. Pada 2017 sampai sekarang juga digunakan untuk melaporkan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) berupa data Inseminasi Buatan, Kebuntingan, dan kelahiran.

Manfaat ekonomi yang diperoleh peternak berupa kelahiran pedet sampai Juni 2019 sebanyak 3.696.804 ekor. Jika diasumsikan harga pedet lepas sapi per ekor Rp8 juta, nilai manfaatnya setara dengan Rp29,57 Triliun

"Dengan demikian, ini menunjukkan dengan ketersedian data yang akurat akan memudahkan pemerintah dalam menyusun program dan kegiatan pembangunan sektor peternakan yang tepat dan efektif, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak," pungkas Akbar. (RO/X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More