Selasa 09 Juli 2019, 01:00 WIB

Rian D'Masiv Semangati Musisi Baru

Zubaedah Hanum | Humaniora
Rian D

MI/SUMARYANTO BRONTO
Rian Ekky Pradipta

 

VOKALIS D'Masiv, Rian Ekky Pradipta, 32, berbagi ilmu dan pengalamannya untuk komunitas musisi di Ciledug dan sekitarnya, belum lama ini. Acara yang dibungkus dalam sebuah diskusi itu berisi kalimat-kalimat penyemangat untuk musisi yang tengah berjuang dengan warna musiknya masing-masing.

Ketika tiba giliran Rian berbicara, ia menumpahkan pengalamannya di hadapan peserta diskusi. Menurutnya, pengetahuan soal musik penting bagi pelaku di industri permusikan. Dia menganggap perbendaharaan musik bakal memperkaya karya.

"Sebelum nyemplung ke politik, saya sering ngobrol sama Mas Dhani Dewa. Saya penasaran kenapa Mas Dhani bikin lagu enak banget. Pertama, memang produksi albumnya mahal. Tapi itu bukan satu-satunya faktor. Menurut saya karena Mas Dhani pengetahuannya 'gila'. Kaset, piringan hitam banyak," kata Rian.

Untuk sebuah grup band, Rian mewanti-wanti agar visi dan misi personel band harus ditekankan sejak awal sehingga arah tujuan bermusik grup itu sama. Hal itu juga yang dilakukan grup band D'Masiv yang digawanginya bersama Dwiki Aditya Marsall (gitaris), Nurul Damar Ramadan (gitaris), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bassist), dan Wahyu Piadji (drumer).

"Kita harus memulai sesuatu dengan keyakinan enggak boleh setengah-setengah. Nyanyi dengan sepenuh hati. Jadikan musik sebagai kebutuhan. Terkenal dapat uang banyak itu bonus," terangnya.

Grup band D'Masiv pertama kali dibentuk pada 3 Maret 2003. Nama D'Masiv diambil dari kata massive yang diharapkan bisa membawa band itu mencapai hasil terbaik sepanjang kariernya. Nama mereka mulai melambung setelah berhasil memenangi kompetisi musik pada 2007.

Setahun kemudian, album pertama berjudul Perubahan pun dirilis dengan Cinta ini Membunuhku sebagai lagu andalannya. Pada 2009, D'Masiv merilis mini album baru yang berisi dua buah lagu berjudul Mohon Ampun Aku dan Jangan Menyerah. Band ini menyabet gelar sebagai grup band terbaik di Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2010.

Sering berkaca

Sekian tahun bergelut dengan musik, laki-laki kelahiran Yogyakarta, 17 November 1986, itu mengaku bermusik telah menjadi sebuah kebutuhan seperti udara yang setiap hari ia hirup. Rian yakin karya yang diciptakan akan mendapat tempat di hati orang.

"Kalau ada dua orang yang nonton kita hibur saja. Jangan remehkan penonton. Jangan 'lemas' mainnya, mulai dua orang yang nonton enggak apa-apa," paparnya.

Dalam kiprahnya selama ini, Rian juga tak segan-segan mengevaluasi apa yang telah dilakukannya. Kaca dijadikan media untuk Rian memompa kepercayaan diri. Menurutnya, dengan berkaca kita bisa mengetahui kelemahan dan kelebihan kita.

"Nyanyi sambil ngaca. Jangan takut dikira orang gila. Bayangkan saja saat ngaca itu kita berada di depan penonton. Kita latihan. Kalau kita engggak ngaca, kita enggak tahu. Banyak-banyak ngaca, kita tahu angle mana yang kita tonjolin," saran ayah dari Euralia Cassidy Rian itu. (Medcom.id/H-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More