Senin 08 Juli 2019, 12:11 WIB

Kantor Pemerintah Gagal Jadi Contoh Kawasan Tanpa Rokok

Antara | Humaniora
Kantor Pemerintah Gagal Jadi Contoh Kawasan Tanpa Rokok

ANTARA/M Agung Rajasa
Peneliti YLKI menempelkan stiker saat peluncuran hasil survei Kawasan Dilarang Merokok di Hotel dan Restoran di Jakarta.

 

KETUA Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonsia (YLKI) Tulus Abadi menyoroti sejumlah kantor pemerintahan yang tidak menjadi contoh kepatuhan terhadap aturan tempat kerja sebagai salah satu kawasan tanpa rokok.    

"Banyak kantor-kantor pemerintahan yang pimpinan dan stafnya merokok di tempat kerja yang tertutup," kata Tulus melalui pesan tertulis yang diterima, Senin (8/7).    

Tulus mengatakan hal itu seharusnya menjadi perhatian banyak pihak dan para pimpinan wilayah karena kawasan tanpa rokok sebenarnya merupakan upaya melindungi masyarakat agar tidak menjadi perokok pasif.    

Pasalnya, perokok pasif juga terancam menderita kanker paru akibat paparan asap rokok orang-orang di sekitarnya.

Faktor risiko perokok pasif terkena kanker paru empat kali lipat, sedangkan perokok aktif 13,6 kali lipat.    

Baca juga: Pak Topo Jadi Korban Ulah Perokok

Salah satu contoh perokok pasif yang harus menderita kanker paru adalah Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho.    

"Pak Sutopo adalah salah satu korban keganasan asap rokok di tempat kerja. Pak Sutopo adalah korban egoisme bahkan sadisme dari lingkungan kerjanya yang membara oleh asap rokok," seru Tulus.    

Sutopo meninggal pada Minggu (7/7) di Guangzhou, Tiongkok saat menjalani pengobatan akibat kanker paru stadium IVB.    

Sutopo mengaku menjaga perilaku hidup sehat dan tidak merokok, tetapi juga menyatakan kerap mendapati lingkungan kerja yang penuh asap rokok dan tidak bisa menghindar.    

"Dalam hal sebagai perokok pasif, Pak Sutopo tidak sendirian. Secara nasional, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, jumlah perokok pasif mencapai lebih dari 90 juta orang, 12 juta lebih adalah anak usia nol hingga empat tahun," tuturnya.    

Tulus mengatakan para perokok pasif kebanyakan terpapar asap rokok di tempat kerja bahkan di dalam rumahnya sendiri. (OL-2)

Baca Juga

Dok. MI

Komitmen Ekonomi Hijau Indonesia

👤MI 🕔Selasa 24 November 2020, 02:10 WIB
WORLD Economic Forum menyebut bahwa potensi ekonomi hijau sangat besar, yakni ada peluang bisnis sebesar US$10,1...
ANTARA

Angin Kencang dan Banjir Imbas Cuaca Ekstrem

👤MI 🕔Selasa 24 November 2020, 01:55 WIB
CUACA ekstrem telah menyebabkan tiga peristiwa bencana di dua daerah pada Minggu...
ANTARA

Seleksi Pangkas Guru Honorer

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 24 November 2020, 01:35 WIB
KETIDAKJELASAN status guru honorer bakal menuju titik...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya