Senin 08 Juli 2019, 10:21 WIB

Pak Topo Jadi Korban Ulah Perokok

Putri Anisa Yuliani | Humaniora
Pak Topo Jadi Korban Ulah Perokok

MI/IMMANUEL ANTONIUS
Sebuah poster larangan merokok terpampang di Stasiun Juanda, Jakarta Pusat.

 

KETUA Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menegaskan Indonesia harus segera membuat peta kanker.

Sebelumnya, pemerintah Tiongkok pada 1960-an pernah menyusun peta tersebut.

"Peta kanker tersebut sangat penting, sebagai basis (dasar) pembuatan peta jalan penanggulanan kanker di Indonesia. Sehingga penyakit kanker tidak kian mewabah," ujar Tulus dalam keterangan tertulis, Senin (8/7).

Keterangan itu disampaikan menyusul meninggalnya putra terbaik bangsa Indonesia, Kepala Pusat Data Informasi dan Kehumasan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho akibat kanker paru-paru.

Baca juga: Kepala BNPB Sebut Pak Topo Contoh Pengabdian pada Negara

Sutopo meninggal di Guangzhou, Tiongkok, Minggu (7/7) pagi, akibat kanker paru stadium empat. Almarhum divonis kanker paru sejak awal 2017.

Hal yang perlu digarisbawahi ialah Sutopo bukan perokok aktif.

"Almarhum mengaku menjaga perilaku hidup sehat dan tentu saja tidak merokok. Namun, almarhum juga mengaku dirinya hidup dalam lingkungan kerja yang penuh asap rokok dan tidak bisa menghindar karenanya. Alias, berposisi sebagai perokok pasif (passive smoker)," kata Tulus.

Dalam hal sebagai perokok pasif, Topo tidak sendirian. Bahkan secara nasional, menurut hasil survei Riskesdas 2013, jumlah perokok pasif mencapai lebih dari 90 juta orang. Tragisnya, 12 juta lebih dari perokok pasif adalah anak usia 0-4 tahun (balita).

Mereka umumnya terpapar asap rokok di tempat kerja dan bahkan di dalam rumah sendiri.

Dengan demikian betapa dominannya orang Indonesia yang berstatus sebagai perokok pasif. Faktor risiko perokok pasif terkena kanker paru adalah empat kali lipat, sedangkan perokok aktif adalah 13,6 kali lipat.

"Oleh karena itu, mewujudkan adanya Kawasan Tanpa Rokok (KTR), adalah kebutuhan mutlak. Sangat mendesak agar semua tempat kerja dan tempat umum sebagai area KTR, tanpa kompromi," tegasnya.

Pimpinan dan semua pihak harus mewujudkan area KTR, khususnya di tempat kerja, tempat umum, dan angkutan umum.

Bahkan sangat mendesak mewujudkan rumah sebagai KTR. Sebab merokok dalam rumah sama artinya melakukan KDRT bagi penghuni rumah, karena menyebarkan racun mematikan ke seluruh penghuni rumah.

Ironisnya, banyak kantor pemerintah dan pejabatnya tidak memberikan contoh kepatuhan bahwa secara regulasi tempat kerja adalah area KTR. Banyak kantor-kantor pemerintah yang pimpinan dan stafnya merokok di tempat kerja yang tertutup.

"Dan almarhum Pak Sutopo adalah salah satu korban keganasan asap rokok di tempat kerjanya. Pak Sutopo adalah korban egoisme bahkan sadisme dari lingkungan kerjanya yang membara oleh asap rokok," ujarnya.

Kini Indonesia adalah darurat kanker. Mengingat prevalensi kanker malah meningkat menjadi 1.8 persen (Riskesdas 2018). Padahal pada Riskesdas 2013, prevalensi kanker di Indonesia hanya 1.4 persen. Salah satu pemicu dan pencetus tingginya prevalensi kanker adalah asap rokok. (Ol-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More