Eksportir Benih Jalani Pelatihan Khusus

Penulis: mediaindonesia.com Pada: Sabtu, 06 Jul 2019, 20:16 WIB Advertorial
Eksportir Benih Jalani Pelatihan Khusus

Dok Kementan
Eksportir benih saat mengikuti pelatihan, Jumat (5/7).

BALAI Besar Uji Standar Karantina Pertanian (BBUSKP) Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian menggelar pelatihan khusus bagi 32 eksportir benih komoditas pertanian asal Jabodetabek, Jabar, Jateng, dan Jatim.

"Saat ini ada 58  negara tujuan ekspor benih komoditas pertanian kita. Ini harus kita jaga dan bahkan kita tingkatkan ke depan. Agar tidak ada hambatan teknis persyaratan Sanitary dan Phytosanitary (SPS). Kami dari Badan Karantina Pertanian siap mengawal," kata Kepala Barantan Ali Jamil saat membuka acara Bimbingan Teknis di Jakarta, Jumat (5/7).

Jamil menjelaskan, hal ini merupakan upaya untuk meningkatkan akseptabilitas pasar ekspor benih komoditas pertanian di pasar dunia. Sehingga, kesehatan benih merupakan salah satu syarat penting yang harus dipenuhi.  

Benih-benih yang diproduksi selain memiliki mutu fisik baik, kemurnian spesies tinggi, daya berkecambah, dan vigoritas tinggi, ukuran seragam, juga harus sehat yaitu bebas dari biji gulma dan penyakit seedborne.

Justifikasi benih tersebut harus sehat, maka diperlukan pemahaman serta pengujian mutu kesehatan benih secara laboratorium. Benih dikatakan sehat jika benih tersebut bebas dari patogen (bakteri, cendawan, virus maupun nematoda). Semua golongan patogen dapat terbawa oleh benih. Bisa terinfeksi ataupun terkontaminasi pada permukaan kulit benih. Kebanyakan patogen yang terbawa oleh benih menjadi aktif segera setelah benih disebar atau disemaikan. Sebagai akibatnya benih menjadi busuk atau damping off sebelum atau sesudah benih berkecambah.

BBUSKP sejak 2018 telah aktif dalam kegiatan uji profisiensi kesehatan benih secara Internasional dan telah masuk sebagai anggota asosiasi pengujian benih internasional  (International Seed Test Association atau ISTA).

"Badan Karantina memiliki kompetensi yang telah diakui dunia, ini harus dibagi kepada pelaku usaha agar ekspor maupun penerimaan benih komoditas pertanian kita di pasar global bisa meningkat," jelasnya.

Kepala BBUSKP Sriyanto memaparkan data dari sistem otomasi perkarantinaan IQFAST. Dari ke-58 negara tujuan ekspor benih asal Indonesia di antaranya Australia, Azerbaijan, Brazil, Bulgaria, Kanada, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Irak, Itali, Jepang, Korea Selatan, Myanmar Nepal,  Pakistan, Paraguay, Filipina,  Polandia, Rusia, Singapore, Slovakia, Afrika Selatan Taiwan, Thailand, Ukraina, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Sementara jenis benih/bibit yang diekspor oleh Indonesia selama 2019 diantaranya agave, kakao, kaktus, manggis, buah naga, sansieviera, tanaman aquarium, ornamental plants, bayam, buncis, cabai, kacang panjang, euphorbia, kelapa sawit, ketimun, labu, melon, dan paria. Total volume ekspor benih tahun 2019 sebesar 22.868,6 ton dalam bentuk kemasan box, batang dan lainnya dengan konversi nilai ekonomi sekitar Rp109,2 miliar.

Menurut Sriyanto, berbagai upaya telah dan terus diupayakan pemerintah bersama mitra kerja untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian khususnya komoditas pangan baik hortikultura, tanaman pangan, maupun perkebunan, salah satunya adalah penyediaan benih yang berkualitas.

Kebutuhan benih yang berkualitas merupakan suatu keniscayaan bahkan beberapa komoditas masih mengandalkan ketersediaannya dari benih impor, karena produksi di dalam negeri belum mencukupi. Namun di sisi lain, kitapun telah berhasil mengekspor benih ke pasar internasional dan dapat menyumbang devisa negara.
 
BBUSKP juga meluncurkan aplikasi sistem informasi laboratorium Karantina SILAQU (Sistem Informasi Laboratorium Quarantine) yang di dalamnya memuat fitur layanan pengujian standar QLAB (Quarantine Laboratory), layanan metode standar QLIS (Quarantine Laboratory Integrated System), layanan kontrol positif standar pengujian laboratorium QPOL (Quarantine Positive Control Laboratory).

Baca juga: Biodiesel B-100 lebih Irit dan Hemat Devisa Negara

Aplikasi ini akan dimanfaatkan oleh semua stakeholder untuk menjamin pelaksanaan hasil pengujian yang memuaskan dengan prioritas tepat dan teliti serta dalam rangka mendukung akselarasi ekspor.

"Inovasi dan terobosan di segala bidang perkarantinaan terus dilakukan, kita bersiap dan komit mengawal dalam upaya mewujudkan visi besar Kementan dan kita bersama menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada 2045," tutup Jamil. (RO/X-15)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More