Jumat 05 Juli 2019, 22:16 WIB

Mutualisme Radio Daring dan Musik Indie

Galih Agus Saputra | Weekend
Mutualisme Radio Daring dan Musik Indie

MI/Galih
Suasana diskusi radio online di Jakarta, Minggu (30/6)

Sekumpulan anak muda tampak memenuhi ruang bawah tanah bernama The Room. Suasana ruang yang berada di Hotel Monopoli, Kemang, Jakarta, itu dipenuhi deru musik modern dan cehan pembawa acara yang cukup lantang terdengar, kala Media Indonesia menuruni tangga menuju ke sana. Kalau diamati secara lebih dekat, mereka tampak terlebur menjadi satu dalam remang lampu kafe, yang menjadi salah satu tempat perhelatan 'Lift Off', persembahan Studiorama itu.

Studiorama dewasa ini dikenal sebagai kolektif anak muda pecinta musik yang kerap menghelat festival atau acara musik. Tak jarang pula mereka menggunakan format pesta dansa dalam setiap kegiatannya. Sejumlah musikus Tanah Air maupun mancanegara pernah mereka wadahi. Bahkan, kadang kala mereka juga menyiarkan secara langsung (live) acaranya.

Kala itu, 'Lift Off' tidak hanya menyuguhkan acara musik, namun juga membuka diskusi terkait radio daring. Ada pula siaran langsung ke seluruh dunia bersama stasiun radio daring kenamaan asal London, Inggris, NTS Radio. Dalam acara yang berlangsung pada Minggu (30/6) itu, mereka juga didukung Aliansi Online Radio (AOR), yang terdiri dari sembilan stasiun radio daring terkemuka di Tanah Air.

Pada suatu kesempatan, sebuah diskusi terkait mutualisme radio daring dan musik indie dikupas dengan cukup bernas oleh moderator dari Studiorama, Aldous. Lawan bicaranya adalah Perwakilan dari radio daring Demajors, Yanuari Murdiansah. Ada juga pendiri radio daring Mesin Suara, Nasrullah Abdul Malik, bersama copywriter-nya, Riki Rinaldi. Tema diskusi kali ini 'How Online Radio Play a Pivotal Role on Preserving Independent Music'.

Dituturkan Yanuari Murdiansah, atau yang akrab disapa Ari, Demajors berdiri sejak 2010. Awalnya, mereka sudah memiliki sekitar 500 katalog lagu atau band Tanah Air dan berkeinginan agar musik yang 'tak umum' itu dapat didengar oleh banyak orang. Singkat cerita, kemudian munculah gagasan untuk membuat radio daring. "Pada waktu itu ada beberapa orang, tapi merangkap beberapa hal misalnya, mencakup teknisi, IT, dan segala macam," tutur Ari.

Lain halnya dengan Mesin Suara, radio daring itu didirikan Abdul setelah keluar dari stasiun radio konvensional. Dulunya, Abdul ketika bekerja di stasiun radio konvensional sering memutar karya sejumlah band yang mungkin 'tidak cukup terkenal'. Alhasil, ia kerap mendapat teguran dari atasan karena musik yang diputarnya itu tidak sesuai dengan pasaran.

Pengalaman itu membuat Abdul  merasa preferensinya tidak diperhatikan. Namun, pada saat yang sama, ia juga mengenal teman seprofesi yang kekurangan persediaan karya. "Setelah itu saya keluar dari radio konvensional tempat saya bekerja dan ketemulah dengan beberapa teman lainnya. Saya ajak mereka, kebetulan ada yang bisa IT dan ada yang punya karya, kemudian jadilah radio daring Mesin Suara," ungkapnya.

Bagi keduanya, penyiaran radio daring dan konvensional sangatlah berbeda. Salah satunya yang cukup jelas ialah soal pemilihan lagu. Radio konvensional selalu mengikuti segmen di tiap jam siarannya. Sementara radio daring, mereka berfokus terhadap konten, termasuk bagaimana caranya membangun narasi atau memperkenalkan lagu tertentu kepada pendengarnya.

Cara membangun narasi itu sendiri, lebih lanjut dipaparkan oleh Riki. Ia yang mengaku baru saja bergabung di Mesin Suara, mengatakan bahwa dirinya selalu membuat tulisan pendamping untuk memperkenalkan karya. "Jadi setiap ada konten yang diputar di Mesin Suara, kami juga mengubahnya menjadi artikel," tutur pemuda berkacamata tersebut.

Pemilihan tema
Perbincangan kemudian semakin menarik ketika membahas bagaimana cara Ari dan Abdul menentukan tema atau selera musik yang hendak disiarkan. Biasanya, Abdul akan memantik obrolan ringan ke teman-teman setongkrongan terkait musik yang sedang hit di lingkarannya. Dari situ lah ia kemudian dapat menemukan jenis musik, sekaligus hal yang tidak bisa dirasakan ketika menjadi pembawa acara di radio konvensional.

"Ada semacam kedekatan khusus yang kita dapatkan. Meskipun sekarang platform sudah jauh berkembang, ada Youtube, Spotify dan segala macam yang memiliki begitu banyak karya, namun hal-hal kedekatan semacam itu lah yang tidak bisa kita dapatkan jika tidak melalui siaran radio kami. Ada interaksi langsung," tutur Abdul.

Senada dengan Abdul, Ari sendiri meyakini bahwa dewasa ini radio konvensional memiliki kekurangan dalam memutarkan lagu. Mereka biasa memutarkan lagu seturut dengan pendengar incarannya, sementara radio daring dapat memberikan pilihan musik untuk didengar. Selain itu, radio daring juga bisa menjadi jawaban bagi para musikus yang selama ini tidak pernah dilirik oleh radio konvensional.

"Sebagai contoh, ada satu band. Harga satu albumnya murah banget, Rp25 ribu per keping. Lebih murah dibanding harga kuota internet sebulan. Materinya keren, produksinya pun oke, dipegang Indra Lesmana. Tapi, tidak ada satu pun radio konvensional yang meliriknya. Di sisi lain mereka juga sering sekali manggung di berbagai festival musik jazz. Tapi tidak ada satupun radio yang mau memutar lagunya. Sedih banget kan lihat seperti itu? Makanya, di situlah radio daring mengisi kekosongan bagi mereka," tutur Ari.

Menariknya, apa yang dilakukan Ari dan Abdul itu tampaknya mendapat tanggapan positif dari para pendengarnya. Para pendengar siaran radio daring Mesin Suara, misalnya, menunjukkan respon melalui media sosial tanpa diminta. Tak jarang, mereka mengunggah hasil siaran Mesin Suara di media sosial masing-masing, dilengkapi deangan ajakan untuk menanti siaran selanjutnya.

"Banyak yang posting di story-story IG begitu, gila jam segini ada lagu keren begini di Mesin Suara," tutur Abdul, menceritakan respon salah satu pendengarnya.

Baik Abdul, Ari, maupun Riki, dewasa ini berharap agar semakin banyak talenta yang berani untuk berkarya. Saluran kini tidak akan menjadi persoalan karena mereka siap menerima kapan saja. Catatannya, bagi mereka yang hendak mengirimkan karya, harap menyertakan keterangan berupa narasi termasuk lagu dalam format misalnya MP3 agar segera dapat diputar untuk para pendengarnya. (M-2)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More