Jumat 05 Juli 2019, 21:26 WIB

Investigasi Kerusuhan Temukan Keterlibatan Ormas dan Parpol

Ferdian Ananda Majni | Politik dan Hukum
Investigasi Kerusuhan Temukan Keterlibatan Ormas dan Parpol

Antara Foto/RENO ESNIR
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo

 

PENGUNGKAPAN hasil investigasi kerusuhan 22 Mei oleh tim gabungan mabes polri menunjukkan keterlibatan sejumlah ormas islam, ormas, oknum relawan Pilpres hingga partai politik.

Dalam slide atau tampilan pemaparan yang ditunjukkan saat jumpa pers tentang Investigasi Kerusuhan 21-22 Mei terlihat bagan tentang para pelaku yang terlibat. Masing-masing 10 oknum ormas Islam dari 10 perwakilan provinsi, Serang, Tangerang, Cianjur, Pandeglang, Banyumas, Tasikmalaya, Majalengka, Lampung, Aceh, dan Jakarta. Selanjutnya, oknum ormas diantaranya GR, FK, GR, dan PMD.

Sedangkan oknum partai yakni partai GR, Partai PN dan Partai PS dan 3 oknum relawan pemenangan paslon pilpres.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo memastikan pihaknya telah menyisir penyebab dan pemicu kerusuhan yang terjadi selama 21-22 Mei. "Dari hasil investigasi itu, ada delapan kelompok, itu masih akan terus didalami oleh penyidik," kata di Mabes Polri, Jumat, (5/7).

Baca juga: Polisi Buru Koordinator Massa Perusakan Asrama Brimob

Meskipun demikian, Dedi tidak merincikan sejauh mana keterlibatan masing-masing oknum tersebut. Bahkan Polisi hanya menyebut nama ormas dengan inisial, itupun hanya tiga yang disebut.

"Kemudian juga ada kelompok oknum ormas yakni GR, FK. dan GR. Ini sama-sama GR tapi beda, yang satu GRS, yang satu GR. Kemudian ada juga oknum relawan," lanjutnya.

Akan tetapi guna menguak keterlibatan oknum-oknum tersebut, pihaknya tentu perlu membuktikan keterlibatan mereka dengan melakukan penyidikan berdasarkan analisis video rekaman kerusuhan tersebut.

"Kami sedang menganalisis kembali menggunakan face recognition dari berbagai macam visual yang ada. Baik melalui video, CCTV, termasuk kita combine dengan keterangan saksi," paparnya.

Dia menjelaskan, metode itu untuk mengidentifikasi wajah eksekutor penembak misterius. Kemudian, menggunakan teknologi voice analysis guna mengidentifikasi jenis suara letusan pada saat kerusuhan.

"Dianalisis apakah benar suara senjata api. Karena setiap letusan itu punya kekhasan masing-masing. Atau letusan petasan. Ini semuanya akan dibedakan nanti," lanjutnya.

Hasil dari analisis keduanya akan dikombinasikan dengan hasil rekonstruksi terhadap korban meninggal dunia, termasuk keterangan saksi. Oleh karena itu, ia berharap kedua metode ini membuahkan hasil dalam pengejaran oknum tersebut

"Karena ada saksi yang melihat korban itu tertembak, jatuh, kemudian dievakuasi. Semuanya itu akan kami dalami," pungkasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More