Biodiesel B-100 lebih Irit dan Hemat Devisa Negara

Penulis: mediaindonesia.com Pada: Jumat, 05 Jul 2019, 18:35 WIB Advertorial
Biodiesel B-100 lebih Irit dan Hemat Devisa Negara

Antara
Forum Tematik Bakohumas di Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/7).

PELAKSANA Tugas Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Momon Rusmono menyatakan hasil uji coba penggunaan Biodiesel B-100 mampu mencapai jarak 13,1 kilometer/liter. Jarak tersebut lebih jauh jika dibanding solar yang hanya mencapai 9 kilometer/liter.

"Lebih dari itu, penggunaan B-100 bisa menghemat devisa sebesar Rp26 triliun yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani sawit," ujar Momon saat membuka Pertemuan Badan Koordinasi Humas di Bogor, Jawa Barat, Kamis (4/7).

Momon menjelaskan, penghematan ini bisa didapat dari substitusi impor solar yang selama ini cukup tinggi. Di sisi lain, biodiesel juga mampu mengurangi pencemaran lingkungan karena rendah polusi dan berbahan baku kelapa sawit 100%.

"Kita sudah membuktikan dengan uji coba pada mobil-mobil dinas Kementan. Dari uji coba ini, para sopir mengaku kualitas Biodiesel B-100 sudah setara dengan DEX yang selama ini digunakan," katanya.

Baca juga: Gubernur Jateng Puji Gebrakan Pemerintah Tingkatkan Ekspor

Untuk itu, Momon berharap, ke depan penggunaan B-100 ini dapat menjadi alternatif  bahan bakar kendaraan. Apalagi, hasil riset dan uji coba Balitbang Kementan menunjukan adanya kesetaraan kualitas dengan minyak lain.

"Makanya, melalui forum ini kita harus mampu mengekspose lebih jauh lagi program-program pembangunan pertanian dan hasil-hasilnya kepada masyarakat antar lintas sektoral," katanya.

Direktur Informasi dan Komunikasi Politik, Hukum dan Keamanan, Kementerian Kominfo Bambang Gunawan menyebutkan penggunaan biodiesel B-100 dapat berpengaruh pada kondisi ekonomi secara nasional.

"Harganya 40% lebih murah. Makanya penggunaan B-100 ini berpotensi menghemat devisa sebesar Rp26,66 triliun," katanya.

Selain itu, kata Bambang, penggunaan biodiesel juga lebih ramah lingkungan karena karbon monoksida (CO) yang dihasilkan 48% lebih rendah jika dibanding dengan penggunaan solar.

"Yang pasti, pemanfaatan biodiesel ini akan berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani sawit" katanya.

Sebagai catatan, proses riset ini diawali pada pengembangan minyak nabati pada 2014. Saat itu, Kementerian Pertanian menghasilkan bahan bakar B-20 yang selanjutnya disebut campuran 20% minyak nabati pada solar. Kemudian, Kementan berhasil mengembangkan B-30 hingga akhirnya bisa 100% menggunakan minyak nabati, tanpa campuran solar.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri menambahkan, forum ini sangat bermanfaat untuk mendiseminasikan capaian dan program, karena menghadirkan para pejabat pengelola kehumasan pemerintah atau Government Public Relation.

Menurut Kuntoro, forum ini juga sekaligus upaya Kementan dalam  menyosialisasikan berbagai program, capaian, dan tantangan dalam pembangunan pertanian secara langsung kepada stakeholders.

"Biodiesel B-100 memiliki prospek untuk memecahkan masalah terkait pengembangan industri kelapa sawit, penyejahteraan petani dan penyediaan energi terbarukan," pungkasnya.

Sekadar diketahui, Forum Tematik Bakohumas ini dihadiri lebih dari 100 pejabat pengelola kehumasan dari 48 Kementerian dan Lembaga, Organisasi Profesi, serta perwakilan Senat Mahasiswa. Selain pemaparan hasil riset dan ujicoba, peserta juga berkesempatan mengunjungi Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri), lembaga dimana riset biodiesel B-100 ini dilaksanakan. (RO/X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More