Rabu 03 Juli 2019, 19:19 WIB

Pendatang Padati Bantaran Sungai di Jakarta dengan Gubuk Liar

Antara | Megapolitan
Pendatang Padati Bantaran Sungai di Jakarta dengan Gubuk Liar

Antara
Gubuk liar di bantaran sungai Banjir Kanal Barat (BKB) di Jati Pulo, Jakarta Barat.

 

GUBUK liar kembali memenuhi bantaran sungai Banjir Kanal Barat (BKB) di Jati Pulo, Jakarta Barat setelah sempat dibersihkan oleh pemerintah DKI Jakarta pada 2017.    

Gubuk liar itu membentang sepanjang 1 kilometer. Gubuk liar yang dibangun dari kayu, tripleks, dan terpal tersebut mengakibatkan kawasan Jati Pulo tampak kumuh dan juga kotor.   

"Lihat aja mas, bantaran sungai dijadiin gubuk. Mereka udah enggak peduli ada lahan sedikit saja, sikat (bangun gubuk)," ujar Basir, warga di Jati Pulo, Rabu (3/7).        

Menurut Basir, warga yang menghuni gubuk liar itu bukan asli warga Jakarta, kebanyakan dari mereka berasa dari luar Ibu Kota. Sempat beberapa kali ditertibkan, namun tak lama gubuk-gubuk liar itu kembali berdiri.    

"Kita mah enggak bisa apa-apa. Sudah ditertibkan balik lagi, ditertibkan balik lagi," ujarnya.    

Dari penelusuran, hampir seluruh penghuni merupakan pemulung barang bekas. Namun beberapa di antaranya juga memiliki sepeda motor.   

Menurut Basir, saat malam gubuk liar itu sering dijadikan tempat prostitusi. Beberapa di antaranya pun memiliki usaha dengan membuka warung. "Kalau malam itu banyak yang mangkal," kata dia.  

Baca juga: Anies Ganti Operasi Yustisi dengan Pelayanan Administrasi

Salah seorang penghuni gubuk, Imas, 48, mengaku terpaksa mendirikan hunian untuk dapat tetap bertahan hidup di Jakarta. Ia juga tidak peduli apabila harus digusur, karena bagi dia, sangat mudah mencari lahan dan mendirikan gubuk kembali.    

"Ah kita mah mudah, 2x3 meter saja bisa jadi rumah. Yang penting bisa tidur," kata perempuan yang juga seorang pemulung barang bekas ini.    

Baca juga: Anies Terima Pendatang ke Jakarta Pascalebaran

Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono mendorong Pemprov untuk melakukan pendataan terhadap warga yang datang ke Ibu Kota.    

Menurut dia, Jakarta memang kota terbuka bagi siapa saja, namun yang patut digarisbawahi harus ada aturan jelas agar mereka tidak menjadi beban.    

Kata dia, pendatang semestinya memiliki jaminan ketika sampai di Ibu Kota. Jaminan yang dimaksud seperti memiliki kemampuan untuk bersaing, dan jaminan tempat tinggal.    

"Perlu diatur. Bukan berarti Jakarta menutup diri tapi Jakarta perlu mengatur, sehingga orang yang datang ke Jakarta bisa berkompetisi mampu menghadapi tantangan berat," kata dia. (X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More