Gubernur Jateng Tegaskan Indonesia Harus Juara Dunia soal Pangan

Penulis: mediaindonesia.com Pada: Rabu, 03 Jul 2019, 17:54 WIB Advertorial
Gubernur Jateng Tegaskan Indonesia Harus Juara Dunia soal Pangan

Dok Kementan
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

GUBERNUR Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan Indonesia harus menjadi juara dunia dalam urusan pertanian dan pangan.

"Soal pertanian dan pangan, kita yang harus menjadi juara dunia. Maka kalau neraca perdagangan sudah kita bicarakan dan teknologi sudah disiapkan, tinggal produktivitas yang didorong, kapasitas yang disiapkan, dan kontinuitasnya juga dijaga," ujarnya saat melepas ekspor perdana kedelai sayur atau edamame ke Belanda melalui e-Cert, di Pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Rabu (3/7).

Oleh karena itu, Ganjar menilai ekspor saat ini merupakan bagian dari tendangan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki produk pertanian berkualitas memenuhi standar pasar dunia.

Indonesia memiliki komoditas edamame, jahe, kopi, gula, jagung, beras, sayuran dan komoditas bunga yang bisa bersaing di pasar ekspor.

"Semua komoditas kita semua ada. Industri hilirnya pun kita ada. Jadi yang perlu kita dorong adalah aspek hulunya kita bina, tengahnya kita ajarin berjualan. Tadi kita sudah pakai sertifikat elektronik, jadi bisa secara real time berkomunikasi dengan negara tujuan ekspor," terangnya.

"Artinya sektor agroindustri kita bisa bersaing. Ini sesuai dengan harapan Bapak Presiden, untuk menggenjot ekspor," pintanya.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan ekspor komoditas lainnya yang total nilai Rp255,4 miliar yang terdiri dari kelompok hortikultura berupa melati, daun cincau, daun pakis, dan sayuran beku sebanyak 202,3 ton. Kelompok tanaman pangan berupa kacang tanah, olahan ubi kayu, terigu, dan ubi jalar berjumlah 178,5 ton. Sementara kelompok perkebunan berupa kopi, gula merah, sapu lidi, teh, dan vanili sejumlah 723,3 ton, dan kelompok produk peternakan berupa sarang burung walet dengan jumlah 1,4 ton.

Sementara komoditas kehutanan dan perikanan asal Jawa Tengah yang juga disertifikasi Karantina Pertanian Semarang adalah kayu senilai Rp173,7 miliar dan rumput laut senilai Rp0,569 miliar.

Ganjar juga mengapresiasi langkah akselerasi ekspor tersebut. Selain itu, aplikasi i-MACE (Indonesian Maps of Agricultural Commodities Export). Sebab, aplikasi itu dapat menyampaikan kepada masyarakat terkait potensi pertanian yang tersebar di seluruh Indonesia termasuk di Jawa Tengah.

Baca juga: Bangladesh Belajar Diseminasi Informasi Pertanian ke Indonesia

Hadir dalam kesempatan itu, Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan)  Ali Jamil, Inspektur Jenderal Kementan Justan Riduan Siahaan, Direktur Kepabeanan Fadjar Dhonny, Sekretaris BKIPM Septiama, dan para pelaku usaha.

Ali Jamil menjelaskan, edamame yang diekspor perdana ini diproduksi oleh petani di Wonosobo, Temanggung, dan Magelang, volumenya sebanyak 40 ton dari total permintaan 480 ton dengan nilai ekonomi Rp13,2 miliar. Sebelumnya, edamame asal Jawa Tengah ini telah diekspor ke Jepang, Lebanon, Amerika Serikat, India, dan Singapura.

Ali Jamil menjelaskan, ekspor itu adalah salah satu upaya pemerintah mendorong ekspor dengan penggunaan sertifikat elektronik (e-Cert).

"Semenjak diberlakukan pada 2015, penggunaan e-Cert baru dilakukan ke tiga negara yakni New Zealand, Australia, dan Belanda. Dan pada 1 Juli ditambah dengan Vietnam yang bisa diterapkan di wilayah ASEAN," kata Ali Jamil saat melepas ekspor perdana edamame ke Eropa melalui Pelabuhan Rotterdam di Belanda.

Ali Jamil menambahkan, akselerasi ekspor juga dilakukan dengan penggunaan aplikasi peta komoditas ekspor produk pertanian i-MACE. Pemerintah daerah diarahkan untuk menggunakan aplikasi ini agar dapat memetakan sentra dan jenis komoditas unggulan dan negara tujuan ekspor.

"Ini tentunya sesuai dengan instruksi Pak Presiden Jokowi kepada para menteri kabinetnya untuk mendorong atau akselerasi ekspor komoditas pertanian," tegasnya.

Ali Jamil mengatakan, dalam kurun waktu 4,5 tahun terakhir sektor pertanian Indonesia mengalami perkembangan pesat. Hal itu dibuktikan dengan semakin meningkatnya jumlah ekspor komoditas pertanian dari tahun-tahun sebelumnya. Contohnya, nilai ekspor pertanian jauh meningkat dari 2013 yang berada pada angka 33 juta ton.

"Nilai ekspor pertanian kita saat ini meningkat jadi 43 juta ton. Naik sekitar 10 juta ton dari sebelumnya," paparnya.

Selain itu, lanjutnya, angka inflasi di sektor pertanian juga mengalami penurunan drastis, yakni dari sekitar 10%  menjadi 1% lebih. Capaian itu menjadi angka inflasi terendah sepanjang sejarah.

Ali Jamil menambahkan seiring dengan perkembangan zaman, Kementan terus tingkatkan penggunaan teknologi informasi. Sebagai fasilitator perdagangan komoditas pertanian di pasar dunia maka penggunaan e-Cert perlu diperluas untuk menembus pasar.

"Aspek quaranty and traceability dari setiap sertifikat elektronik yang diterbitan karantina lebih cepat dan murah sehingga produk kita dapat memiliki daya saing di pasar dunia. Segera akan perluas penggunaan e-Cert kesemua negara mitra dagang kita," tandasnya. (RO/X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More