Selasa 02 Juli 2019, 23:45 WIB

Kabupaten Bandung Ekspor Perdana Jahe ke Bangladesh

mediaindonesia.com | Advertorial
Kabupaten Bandung Ekspor Perdana Jahe ke Bangladesh

Dok Kementan
Kabupaten Bandung Ekspor Perdana Jahe ke Bangladesh

KABUPATEN Bandung, Jawa Barat, merupakan salah satu wilayah produktif penghasil komoditas hortikultura di Indonesia. Sudah tak asing jika Kabupaten Bandung mengekspor sayuran dan buah-buahan karena potensi alamnya yang sangat mendukung. Dan kini Kabupaten Bandung juga menambah daftar komoditas ekspor dengan mengirim rempah jahe ke negara lain.

"Berkat budi daya hortikultura yang baik, hari ini kami mengawal jahe dari Kabupaten Bandung untuk pertama kalinya masuk pasar Bangladesh," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat melepas ekspor 54 ton jahe senilai 680 juta di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu (30/6).

Berdasarkan data sistem otomatisasi perkarantinaan, IQFAST di unit pelaksana teknis Bandung, total nilai ekonomi ekspor komoditas pertanian di Bandung 2018 tercatat mencapai Rp1,6 triliun. Sementara di pertengahan 2019 nilai ekspor komoditas pertanian telah mencapai Rp3,3 triliun. "Alhamdulillah, baru setengah tahun tapi sudah bisa tembus hampir 300% dari capaian ekspor 2018," ucapnya.

Menurut Jamil, seluruh jajaran di Kementerian Pertanian termasuk Barantan, terus melakukan terobosan dan inovasi untuk mengakselerasi dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian.

Jamil menambahkan pihaknya mendorong ekspor dengan empat kebijakan operasional perkarantinaan  yakni melakukan pemeriksaan karantina di gudang pemilik, inline inspection agar proses bisnis ekspor selain lebih terjamin juga lebih cepat, memberikan Layanan Prioritas bagi pelaku eksportir yang patuh karantina. selanjutnya adalah memperluas  akses pasar melalui protokol karantina, manajement risk analysis (MRA), kerja sama bilateral dan multilateral lainnya.

Barantan juga telah menerapkan sertifikat elektronik, e-Cert ke negara tujuan ekspor yang telah memilki kesiapan sistem ini. Dengan e-Cert, negara tujuan  telah mendapatkan informasi teknis komoditas yang akan diekspor sebelum produk tiba, setelah sesuai dan disetujui seluruh persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS yang disetujui komoditas dapat diberangkatkan. "Ini akan mempercepat dan produk yang diekspor terjamin diterima, tidak akan ditolak saat tiba," jelas Jamil.

Kepala Karantina Pertanian Bandung Iyus Hidayat memaparkan selain jahe yang diekspor, pada saat yang bersamaan  dilakukan ekspor kopi sebesar 19,2 ton dengan nilai Rp1,64 milyar tujuan Korea Selatan dan makanan kering tujuan Filipina sebanyak 210 ton senilai Rp6,6 miliar.

Meski makanan kering tidak termasuk komoditas pertanian, namun Iyus menjelasksn ini sesuai dengan negara tujuan yang mempersyaratkan adanya jaminan kesehatan dan keamanan, Phytosanitary  Certificate.

Baca juga: Petani Tegaskan Pertanian Cabai yang Terserang Hama Minim

"Barantan sebagai trade tools facilities bertugas untuk mengawal komoditas pertanian yang di ekspor. Ini langkah nyata untuk mewujudkan mimpi kita bersama menjadikan Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045," tutup Jamil. (RO/X-15)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More