Selasa 02 Juli 2019, 19:17 WIB

Petani Tegaskan Pertanian Cabai yang Terserang Hama Minim

mediaindonesia.com | Advertorial
Petani Tegaskan Pertanian Cabai yang Terserang Hama Minim

Dok Kementan
Petani cabai

KOORDINATOR Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) Kabupaten Magetan Sumarlan mengakui ada lahan pertanian cabai di Desa Nitikan dan Pacalan Kecamatan Plaosan Magetan, Jawa Timur, yang terserang hama.

Akan tetapi, menurut dia, berdasarkan pengamatan di dua desa itu, serangan virus terhadap tanaman cabai persentasenya sangat rendah dan tidak sampai meluas. Faktanya tak lebih dari 1% yang terserang virus dengan luasan lahan sekitar 0,2 hektare atau sekitar 3.400 an batang cabai keriting.

"Padahal satu kecamatan Plaosan luas lahan cabai mencapai 6.488 hektare. Jadi sangat kecil sekali yang terserang. Tak sampai berhektare di tiga desa terserang. Ngawur itu beritanya," katanya.

Menurut Sumarlan, beberapa tanaman memang ada yang terkena gangguan jamur tapi itu hanya sedikit. Penyebab serangan virus dan jamur pada cabai karena petani tidak serempak waktu tanamnya. Selain itu cara budi daya cabai dinilainya masih asal-asalan, semaian benih sudah terinfeksi virus, serta baby bag yang tidak dilepas saat tanam sehingga menyebabkan perkembangan akar dan pertumbuhan tanaman terganggu.

"Penggunaan pestisida juga cenderung asal, karena petani rata-rata belum bisa membedakan antara hama, penyakit, dan fungi atau jamur. Semua disamaratakan. Yang terjadi bukannya menekan malah membuat hama penyakit makin kebal," terangnya.

"Waktu ada air, petani menggunakan sistem leb dengan drainase yang kurang baik sehingga tanah menjadi lembab dan rentan ditumbuhi jamur," imbuh Sumarlan.

Baca juga: Peternak Ayam Bersyukur Harga Mulai Naik

Ketua Kelompok Tani Niti Mulyo Sujono mengakui, para petani di daerahnya banyak yang mempraktikkan cara membuahkan kembali tanaman cabai yang sudah tua. Harapan cabai bisa berbuah kembali dengan biaya yang minimal dengan prediksi ada hujan.

"Lha itu lahan dari tanaman cabai sudah tua, apkir, hanya sekitar 3 ribuan meter. Wajar kalau kena jamur dan beluk. Lagipula tanaman memang mau dibongkar dan akan ditanami lagi. Wong sudah panen 13 sampai 21 kali," ujarnya.

Sujono menyayangkan pemberitaan sebelumnya yang tidak sesuai fakta. Padahal lahan terserang tersebu hanya di lahan seluas beberapa ribu meter persegi.

"Yang diberitakan itu tidak jelas, lahan tanaman siapa, yang diwawancara juga beda, yang masuk berita nama petani juga beda," kata Sujono.

Kasubdit Cabai dan Sayuran Buah Ditjen Hortikultura Mardiyah Hayati menyarankan agar petani bisa memperbaiki tata cara budi daya cabai yang baik dan benar. Penting sekali petani menerapkan manajemen tanaman sehat, yaitu mulai dari benih sehat, bebas hama dan penyakit, dan diseleksi sebelum ditanam.

"Coba lakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan satu famili. Jangan menanam cabai terus-terusan atau tomat," kata Mardiyah.

"Pengairan sebaiknya pakai sistem kocor. Pucuk tunas sebaiknya dipotong sebelum benih dibawa ke lapang untuk mengurangi vektor penyakit atau hama," tambahnya.

Hal itu adalah hasil identifikasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Kementan bersama Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur, Dinas Pertanian Magetan, Petugas Pengawas Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dan PPL setempat.

"Memang kita semua harus gerak cepat terjun lapangan, sigap ke petani, kapanpun dan di manapun, karena petani kerja juga tidak kenal hari libur," kata Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Hortikultura Moh Ismail Wahab di Jakarta, Selasa (2/7).

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More