Selasa 02 Juli 2019, 07:10 WIB

Mesir Protes Lelang Patung Firaun di London

AFP/Tes/X-11 | Internasional
Mesir Protes Lelang Patung Firaun di London

HO / various sources / AFP
Patung kepala berusia 3.000 tahun dari sosok muda Tutankhamun.

 

SEBUAH patung kepala berusia 3.000 tahun dari sosok muda Tutankhamun, firaun Mesir yang dikenal sebagai Raja Tut, mulai dilelang di London, pekan ini. Langkah itu menuai protes keras dari Mesir.

Rumah lelang Christie berharap benda kuarsit cokelat peninggalan Lembah Para Raja itu dapat terjual lebih dari US$5,1 juta pada Kamis mendatang.

Surat kabar The Financial Ti­mes melaporkan itu merupakan patung mesir pertama yang masuk ke pasar sejak 1985.

Bentuk kepala Firaun yang dipahat dengan halus dan mata yang tenang itu seakan-akan menunjukkan kedamaian abadi. Benda bersejarah itu berasal dari koleksi pribadi seni kuno, Resandro Collection, yang terakhir kali dijual rumah lelang Christie pada 2016.

Akan tetapi, otoritas Mesir yang mengawasi koleksi barang antik negara Afrika Utara, meminta lelang tersebut dihentikan serta mendesak pengembalian benda bersejarah ke wilayah asal.

“Kedutaan Mesir di London meminta Kementerian Luar Negeri Inggris dan balai lelang untuk segera menghentikan penjualan,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Mesir.

Mantan Menteri Benda Sejarah, Zahi Zawass, menyebut patung tersebut tampaknya dicuri dari kompleks Kuil Karnak di Mesir sekitar 1970.

“Para pemilik memberikan informasi palsu. Mereka tidak menunjukkan surat-surat keterangan hukum untuk membuktikan kepemilikan,” tukasnya.

Rumah lelang milik Inggris di Prancis menjelaskan bahwa bagian saat ini diperoleh Resandro dari penjual berbasis di Munich pada 1985.

Pihak mereka melacak asal-usul barang untuk akuisisi pada 1973-1974 dari penjual lain di Austria yang diperoleh dari Princely House of Thurn and Taxis.
Jejak itu berangsur hilang tak lama kemudian. Sedikit informasi yang diketahui publik mengenai perjalanan patung hingga mencapai wilayah Eropa.

“Karena sudah berusia ribu­an tahun, sulit melacak jejak benda-benda kuno. Sangat pen­ting untuk menetapkan ke­pemilikan dan penjualan kami dilakukan berdasar aturan hu­kum yang jelas,” bunyi keterangan resmi Christie.

“Kami tidak akan menawarkan penjualan objek apa pun, yang mana masih ada keraguan mengenai kepemilikan,” lanjut pihak Christie.

Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris telah menghubungi otoritas Mesir, tetapi diharapkan Mesir tidak terlalu ikut campur. (AFP/Tes/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More