Minggu 30 Juni 2019, 07:45 WIB

Anak Muda semakin Optimistis

Syarief Oebadillah | Politik dan Hukum
Anak Muda semakin Optimistis

MI/Susanto
Suasana pembacaan putusan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres di ruang sidang utama gedung Mahkamah Konstitusi (MK)

 

INTAN Salsabila, mahasiswa semester dua Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, merasa lega, akhirnya majelis hakim Mahkamah Konstitusi memberikan putusan atas gugatan sengketa Pilpres 2019 pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Sembilan hakim MK menyepakati secara bulat menolak secara keseluruhan gugatan kubu 02 selaku pemohon. Dengan demikian, pasangan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin tetap menjadi presiden dan wakil presiden 2019-2024 sebagaimana yang diputuskan Komisi Pemilihan Umum sebelumnya. "Saya bukan termasuk orang yang fanatik ke salah satu pasangan capres-cawapres, tapi saya memiliki keyakinan bahwa siapa pun yang terpilih menjadi presiden harus diterima masyarakat, termasuk hasil putusan MK. Saya yakin mereka (Jokowi-Amin) ialah putra terbaik bangsa," kata Intan saat dihubungi kemarin.

None Buku Jakarta Selatan 2018 ini menyarankan duet terpilih Jokowi-Amin segera melakukan rekonsiliasi politik dan kultural untuk memulihkan polarisasi akibat kompetisi tajam Pilpres 2019. "Masyarakat harus bersatu membangun bangsa dan negara. Pasangan Jokowi-Amin juga harus menciptakan pemerintahan yang akuntabel, transparan, dan partisipatif," pungkas Intan.

Pernyataan Intan sebagai generasi milenial diamini kedua siswi SMA Kharisma Bangsa, Tangerang Selatan, Banten, yang memenangi Olimpiade Internasional Menulis Kreatif Puisi di Amerika, Siti Halimah dan Reyna Anwar. "Pembangunan infrastruktur era Jokowi-Jusuf Kalla yang sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat harap dilanjutkan," kata Siti Halimah.

Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), ada 63 juta milenial atau penduduk usia 20 - 35 tahun. Artinya, populasi milenial cukup signifikan sebanyak 24% dari sekitar 265 juta jiwa penduduk Indonesia.

Keberhasilan demokrasi

Ambassador Generasi Melek Politik, Aurelia Vizal, 17, mengatakan kegaduhan yang terjadi dalam demokrasi merupakan cerminan keberhasilan demokrasi. "Itu menandai keterlibatan masyarakat, termasuk kalangan milenial dalam menghidupkan demokrasi," kata Aurelia, kemarin.

Nada optimistis juga datang dari Resa, 24, mahasiswa STMT Trisakti. Ia memandang demokrasi Indonesia ke depan akan semakin matang. Menurutnya, masyarakat kini bisa menilai elite politik melalui berbagai rujukan di era keterbukaan informasi ini.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie mengajak semua pihak move on pascaputusan MK. Para tokoh juga diminta untuk mengurangi ujaran kebencian. "Hal itu agar rekonsiliasi benar-benar terwujud," tutur mantan Ketua MK ini di DIY, kemarin.

Ketua Umum Vox Populi Institute Indonesia, Yohanes Handoyo Budhisejati, mendorong Jokowi-Amin menciptakan rekonsiliasi untuk meningkatkan kualitas demokrasi. "Yang terpenting ke depan ialah memperjuangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia," ujarnya, kemarin.

Mantan juru bicara milenial Prabowo-Sandi, Tryanza Maulana, mengharapkan percepatan rekonsiliasi yang merangkul semua elemen bangsa. "Bagaimanapun keputusan MK ialah qodarallah (takdir Tuhan), kita tetap optimistis meskipun mungkin kami menjadi oposisi yang kritis dan konstruktif," cetusnya. (Ins/Mir/Ths/AT/X-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More