Jumat 28 Juni 2019, 08:30 WIB

Tanaman Macadamia untuk Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis

Try/S2-25) | Advertorial
Tanaman Macadamia untuk Upaya Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kritis

Dok KLHK
Menteri LHK Siti Nurbaya menanam pohon macadamia saat acara Pencanangan Pengembangan Tanaman Macadamia untuk Rehabilitasi Hutan dan Lahan di

PEMERINTAH mulai me­ngembangkan jenis tanaman macadamia yang sudah mulai ditanam di sekitar Danau Toba, Sumatra utara. Hal itu sebagai salah satu corrective action dalam rehabilitasi hutan dan lahan tahun 2019.

Pencanangan pengembangan  tanaman macadamia dipimpin langsung Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya di Desa Huta Ginjang, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara, kemarin.

Acara yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia 2019 itu juga dihadiri Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution

Program RHL merupakan program yang sangat prioritas di era kabinet kerja Presiden Jokowi. Pada 2019, Presiden mencanangkan RHL seluas 207 ribu hektare (ha) yang tersebar di 25 provinsi dengan tujuan menyelamatkan waduk/bendungan, 15 daerah aliran sungai (DAS) prioritas, 15 danau prioritas, dan wilayah rawan bencana.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) saat ini Indonesia mempunyai 14 juta hektare lahan kritis yang tersebar di sekitar 17 ribu daerah aliran sungai (DAS). Untuk mengatasi lahan kritis dan kerusakan DAS ini, pemerintah telah melakukan program RHL dengan target per tahun seluas 1,1 juta ha, terutama di 15 lokasi DAS prioritas.

Di samping fenomena perubahan iklim, diduga lahan kritis ini sebagai salah satu penyebab menurunnya daya dukung DAS dengan indikasi meningkatnya bencana hidrometeorologis banjir, longsoran dan kekeringan, serta menurunnya produktivitas lahan.

Plt Direktur Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung KLHK  Hudoyo,  mengatakan pecanangan pengembangan tanaman macadamia dilakukan untuk memulihkan lahan kritis.

Diakuinya pada 2019 daerah tangkapan air (DTA) Danau Toba dengan luas 263.232 ha (tanpa tubuh air) memiliki lahan kritis seluas 29.611 ha, yang tersebar 24.460 ha di dalam kawasan hutan dan 5.151 ha di luar kawasan hutan.

“Ini menjadi salah satu penyebab menurunnya permukaan air danau dalam dekade ini serta ancaman bencana longsor dan kekeringan. Lahan kritis juga menurunkan produktivitas lahan serta meningkatkan kebakaran lahan dan hutan di kawasan yang telah dicanangkan sebagai destinasi wisata unggulan nasional ini,” ujar Hudoyo.

Kondisi biofisik dan sosial di Danau Toba menyebabkan penanganan lahan kritis di daerah tangkapan air di kawasan itu menghadapi tantangan. Penggunaan macadamia dipilih karena mempunyai nilai ekologis yang tinggi, yaitu dapat meningkatkan fungsi hidrologis, pengendalian erosi, tahan terhadap kebakaran dan kekeringan, juga mempunyai nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat, yaitu macadamia.

“Tanaman macadamia yang akan dikembangkan ialah jenis M integrifolia sebagai penghasil kacang yang mempunyai nilai ekonomi sangat tinggi (sekitar Rp100-Rp500 juta per ha). Jenis tanaman ini juga telah diteliti Balai Litbang Aek Nauli di kebun percobaan Sipiso-piso seluas sekitar 2 ha,” jelas Hudoyo.

Pengembangan macadamia integrifolia juga akan dilakukan pada DAS-DAS prioritas lainnya, sebagai tanaman pengganti tanaman hortikultura yang banyak ditanam pada kasus-kasus perambahan hutan, seperti di hulu DAS Citarum, DAS Cimanuk, DAS Serayu dengan Dataran Tinggi Dieng, DAS Jeneberang-Sadang, serta DAS Brantas.

Pada tahap awal, 2019 ini akan ditanam sekitar 6 ribu tanaman macadamia seluas sekitar 500 ha yang melibatkan peran pemerintah, pemerintah daerah, BUMN, BUMS, serta masyarakat.

Jenis tanaman ini dipilih karena sebagai pengganti tanaman hortikultura. Maca­damia berumur 5 tahun sudah dapat menghasilkan kacang macadamia. (Try/S2-25)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More