Kamis 27 Juni 2019, 19:45 WIB

Perlindungan Habitat Orang Utan Cegah Kepunahan

Dhika Kusuma Winata | Humaniora
Perlindungan Habitat Orang Utan Cegah Kepunahan

MI/Dhika Kusuma Winata
Orang utan di TN Tanjung Puting, Kalimantan Tengah

 

STUDI Population and Habitat Viability Assessment Orang Utan (2016) memproyeksikan hanya 38% populasi orang utan di Indonesia yang akan bertahan hidup dalam 100-500 tahun ke depan.

Ancaman terbesar terhadap kera besar itu ialah hilangnya habitat akibat konversi lahan dan kebakaran hutan. Ancaman itu pun perlu diantisipasi sejak dini.

Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Djati Witjaksono Hadi, dalam kunjungan jurnalistik di Taman Nasional (TN) Tanjung Puting, Kalimantan Tengah, Rabu (26/6), mengatakan pemerintah berupaya mempertahankan kealamian habitat orang utan di tengah laju pembangunan dengan kebutuhan konversi lahan yang tinggi.

Hingga saat ini pemerintah menetapkan sekitar 500 kawasan konservasi alam termasuk 56 taman nasional di seluruh Indonesia. Kawasan konservasi itu sebagian di antaranya juga merupakan rumah bagi orang utan.

Komitmen perlindungan kawasan konservasi itu, kata Djati, amat dipegang teguh pemerintah demi mencegah kepunahan orang utan.

Baca juga : Mencari Orang Utan Tapanuli

"Pemerintah tidak akan mengorbankan kawasan pelestarian alam seperti taman nasional untuk pembangunan suatu wilayah. Itu juga yang sedang kita lakukan dengan TN Tanjung Puting yang saat ini sedang ada wacana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Tengah. TN Tanjung Puting justru bisa menjadi aset wisata alam," ujarnya.

Keberadaan TN Tanjung Puting amat penting sebagai konservasi orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus) yang merupakan spesies langka dan terancam punah.

Masih berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment, populasi orang utan kalimantan sekitar 57.350 individu yang tersebar di berbagai wilayah. Adapun Tanjung Puting merupakan rumah bagi subspesies Pongo pygmaeus wurmbii dengan populasi (metadata) sekitar 5.000 individu.

Kepala Balai TN Tanjung Puting Helmi mengatakan perlindungan habitat mutlak harus dilakukan demi mencegah orang utan kalimantan dari kepunahan. Ia mengakui hilangnya habitat merupakan ancaman terbesar kepunahan orang utan kalimantan yang harus diantisipasi.

Kehilangan habitat pernah terjadi saat kebakaran hutan menghanguskan sekitar 60.000 hektare kawasan TN Tanjung Puting pada 2015 silam.

Berdasarkan data hasil perjumpaan langsung, pada 2015 tercatat ada sekitar 978 individu di TN Tanjung Puting dan jumlahnya sedikit merosot menjadi 917 pada 2016.

Menurut Helmi, sebagian sarang orang utan hilang turut terbakar. Kebakaran hutan menjadi ancaman yang sangat serius jika kembali terulang.

"Upaya yang paling bisa dilakukan agar orang utan tidak punah ialah menjaga habitatnya karena perkembangbiakan orang utan memang lamban dibandingkan dengan manusia. Kita menjaga betul dan memantau berbagai setiap ada indikasi titik panas di TN Tanjung Puting," ucapnya.

Baca juga : Petugas Gagalkan Penyelundupan Orang Utan

TN Tanjung Puting seluas 615 ribu hektare merupakan pusat riset orang utan pertama di Indonesia yang wilayahnya 63% ekosistem gambut. Saat ini Tanjung Puting juga menjadi destinasi wisata alam populer dengan atraksi pemberian makan orang utan dan wisata hutan gambut.

Atraksi bisa dilihat di tiga lokasi, yaitu di Tanjung Harapan, Pondok Tanggui dan Camp Leakey. Meskipun orang utan ialah spesies yang hidup soliter dan cenderung menghindari kontak langsung dengan manusia, namun di TN Tanjung Puting pemberian makan bisa ditonton langsung wisatawan. Orang utan yang menjadi atraksi ialah yang pernah mengalami rehabilitasi (bekas peliharaan masyarakat) dan telah dilepasliarkan.

Angka kunjungan wisatawan ke TN Tanjung Puting tiap tahunnya terus meningkat. Pada 2012, kunjungan wisatawan hanya sekitar 12.286 orang. Namun pada 2018, data menunjukan total ada 29.283 wisatawan datang ke TN Tanjung Puting yang didominasi wisatawan mancanegara mencapai 18.834 orang. Dari jumlah kunjungan itu menyumbangkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp7,7 miliar.

"Saat ini juga ada wacana Tanjung Puting untuk menjadi destinasi unggulan atau Bali Baru ke-11. Kami sebagai pengelola menyiapkan berbagai hal mulai dari menjaga kealamiahan alamnya hingga menambah pemandu yang profesional," kata Helmi. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More