Kamis 27 Juni 2019, 16:15 WIB

Densus 88 Pantau Pergerakan 30 Teroris di Jakarta

Siti Yona Hukmana | Politik dan Hukum
Densus 88 Pantau Pergerakan 30 Teroris di Jakarta

ANTARA
Karopenmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo

 

KAROPENMAS Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Dedi Prasetyo menyampaikan hasil monitoring Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terkait pergerakan 30 terduga teroris yang masuk ke Jakarta, Rabu (26/6). Informasi ini untuk mengantisipasi adanya penyerangan yang dilakukan oleh terduga teroris.
 
"30 teroris itu masih dimonitor Densus 88 dengan satgas radikalisme, berdasarkan mapping baik dari JAD, maupun sifatnya simpatisan, seperti kejadian di Solo," kata Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (27/6).
 
Para terduga teroris yang masuk ke Jakarta diduga akan menyusup ke massa yang tengah berunjuk rasa di sekitar Gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Aksi massa ini berkaitan dengan sidang putusan sengketa Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Pilpres 2019 di MK.

Hingga saat ini, lanjut Dedi, belum mendeteksi adanya penyusupan tersebut. Namun, Polri tak mau lengah
 
"Info saya tanyakan belum ditemukan (penyusup). Namun, dalam hal ini Polri tidak underestimate," ujar dia.

Baca juga: Densus 88 tangkap Terduga Teroris di Palangkaraya
 
Dedi menyampaikan pihaknya saat ini sedang menyelidiki jaringan dari 30 terduga teroris tersebut.

"Jadi yang bergerak itu dari JAD Jabarkah atau JAD Lampung sudah kita monitor. Sampai hari ini belum teridentifikasi. Kalau ada nanti langsung ditangkap di tempat," ucap dia.
 
Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengungkapkan ada 30 teroris yang masuk ke Jakarta menjelang sidang putusan sengketa pilpres. Moeldoko memastikan pemerintah sudah melakukan aksi preventif dengan mengikuti pergerakan puluhan terduga teroris itu.
 
"Sudah diikuti (kelompok terorisme), yang penting sudah diikuti," ujar Moeldoko di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (26/6).(medcom.id/OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More