Kamis 27 Juni 2019, 17:30 WIB

Populasi Macan Tutul Meningkat Saat Muncul Embun Upas

Bagus Suryo | Nusantara
Populasi Macan Tutul Meningkat Saat Muncul Embun Upas

ANTARA
Macan Tutul

 

TIM pengendali ekosistem hutan Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menemukan sekelompok macan tutul jawa dan macan kumbang yang populasinya diyakini meningkat. Satwa itu terpantau di kawasan hutan saat muncul fenomena embun upas atau warga Tengger menyebutnya sebagai banyu upas.

Dengan begitu, suhu dingin ekstrem yang melanda sejumlah kawasan TNBTS meliputi wilayah Kabupaten Malang, Probolinggo, Pasuruan dan Lumajang, Jawa Timur, tidak sepenuhnya berdampak negatif.

Munculnya fenomena embun upas yang mematikan vegetasi tidak disukai petani itu justru melahirkan kehidupan baru bagi satwa dilindungi yaitu macan tutul jawa (Panthera pardus melas) dan macan kumbang. Bahkan, populasi keduanya diyakini bertambah.

Populasi satwa eksotis tersebut diduga meningkat setelah tim pengendali ekosistem hutan mengetahui keberadaan macan betina dan jantan di gua Gunung Tutup, kawasan hutan Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Oktober-November 2018 lalu. Saat itu, kamera trap merekam macan tutul dan macan kumbang juga memotret kijang betina dewasa, landak dan elang brontok.

Selama proses pemantauan, sebanyak 12 kamera penjebak sengaja ditempatkan di sejumlah lokasi meliputi hutan kawasan Kabupaten Malang sampai Lumajang. Tujuannya untuk mengetahui keberadaan satwa dilindungi itu beserta persebaran habitatnya.

"Macan tutul dan macan kumbang yang masuk gua itu kemungkinan besar sedang kawin. Sekarang mungkin sudah melahirkan," tegas Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS, Kota Malang, Jawa Timur, Agung Siswoyo kepada Media Indonesia, Kamis (27/6).

Baca juga: Embun Upas Ancam Budi Daya Edelweiss

Agung mengungkapkan akhir-akhir ini pun petugas menjumpai lagi jejak satwa yang diduga kuat sekelompok macan lebih dari dua ekor.

"Pemantauan di Ranu Tompe terakhir dapat macan kumbang. Pemantauan di Jabung, Malang, dalam satu lokasi radius 800 meter sampai 1 kilometer ada tiga ekor macan tutul, dua jantan dan satu betina. Kita menduga ada anaknya," ungkap Agung.

Tim TNBTS bakal memperdalam pemantauan, sebab perkawinan macan tutul dan macan kumbang secara genetis akan melahirkan corak bulu yang eksotis.

"Kami akan memasang kamera trap lagi minggu depan," tuturnya.

Menurut Agung, suhu dingin ekstrem memang bisa mempengaruhi kehidupan satwa. Akan tetapi embun beku hanya terjadi di ketinggian tertentu, misalnya kawasan Gunung Semeru 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Gunung Bromo 2.329 mdpl.

Sedangkan habitat macan tutul berada di hutan primer dengan ketinggian 700 mdpl sampai 1.000 mdpl. Sehingga sejauh ini belum ada laporan dampak embun beku terhadap satwa tersebut.

Fenomena embun upas muncul ketika suhu udara dingin ke titik beku nol derajat celsius. Dalam beberapa hari terakhir, suhu udara di lereng Gunung Semeru dan Gunung Bromo cukup ekstrem, sore sampai malam mencapai 4 derajat celsius, lalu bertambah dingin hingga nol derajat.

Hingga kini, TNBTS memang belum melakukan riset dari dampak embun upas. Untuk itu, Kepala Sub Bagian Data Evaluasi Pelaporan dan Humas TNBTS Syarif Hidayat menyatakan akan mendorong adanya penelitian.

"Kita belum melakukan riset terkait dampak frost. Tapi kita akan mendorong dan mendukung teman-teman fungsional pengendali ekosistem hutan atau pihak lain yang akan melakukan riset terkait fenomena frost," tukas Syarif.(OL-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More