Kamis 27 Juni 2019, 13:21 WIB

Etu, Tinju Beringas Simbol Laki-Laki Flores

Ignas Kunda | Nusantara
Etu, Tinju Beringas Simbol Laki-Laki Flores

Ignas Kunda
Pertandingan Etu sedang berlangsung.

 

KAMPUNG Wololeta pada Selasa (25/6) siang cukup ramai. Teriakan gemuruh menggema seantero kampung. Anak-anak begelantungan di dahan- dahan pohon depan rumah, sejumlah lelaki muda berdiri di atas atap mobil dan sadel sepeda motor. Mereka berkonsentrasi penuh tertuju pada arena persegi panjang pada tengah kampung.

Arena di atas tanah berukuran kurang lebih 15 x 30 meter berjubel  ratusan warga. Mereka hanya dibatasi tali dari bahan serabut enau atau ijuk yang dililit pada tiang-tiang pembatas dari kayu mentah. Sesekali mereka berteriak penuh histeris senang penuh kegembiraan hingga memekakkan telinga. Ibu-ibu hingga gadis-gadis serta anak-anak berbaur menjadi satu berkerumun mengitari arena.

Dalam arena tampak dua pemuda penuh ekspresi kebringasan bak gladiator dalam film-film kolosal era Romawi Yunani saling memukul dengan sebuan benda keras lonjong membulat pada bagian ujung. Alat yang dijadikan senjata itu selalu tergenggam erat di tangan mereka.
Di arena itu juga hadir empat lelaki. Dua orang bertugas mendampingi petarung, dan dua orang lagi berada di antara dua petarung memakai sarung tenun Nagekeo, Flores.

Itu adalah ritual adat suku Nage di Desa Raja, Kabupaten Nagekeo, NTT yang biasa dinamankan Etu. Hampir mirip dengan tinju profesional, Etu  sama sekali tidak menggunakan peralatan pengamanan. Para petarung tak menggunakan alas gigi,sepatu, serta sarung tinju yang lebih lembut, malah mengunakan sejata di tangan.

"Di tangan petarung itu namanya Kepo, diambil dari urat kerbau pada bagian tengkuk lalu dikeringkan hingga mengeras. Itu sepertu sarung tinju bagi mereka," kata Lado, seorang tokoh adat di Desa Raja.
 
Para petarung ini terlihat hanya mengunakan satu tangan yang menggenggang Kepo untuk saling beradu jotos. Di belakang para petarung selalu ada orang yang mendampingi dengan dengan memegang kain yang terikat kuat pada badan petarung. Dua orang ini dinamakan Sike atau pengendali laju pergerakan para petarungnya. Sike sangat berperan dalam memainkan ritme pertarungan, menarik, melepaskan petarung untuk tetap maju menghajar lawannya.

Kemudian ada Seka atau wasit yang juga berjumlah dua orang sebagai penghalau, penengah juga memancing dua petarung ini untuk segera saling menghajar. Bila para petarung belum mulai beradu jotos, Seka  menghentakan kaki semacam memberitahu para petarung agar segera melepaskan serangan, namun ia juga sebagai penghalau atau menahan tangan petarung bila dirasa lawannya sudah terkena pukulan atau menghajar membabi buta.
Menurut Lado sudah berabad-abad ritual Etu ini diselenggarakan di kampung mereka. Etu menjadi ritual adat simbol harga diri para lelaki Nagekeo. Ia sebagai tua adat menggantikan ayahnya yang telah uzur harus menjadi pihak pewaris yang harus memulai dan menutup ritual Etu ini.

"Tiga hari sebelummnya kami ada ritual lain seperti mencari udang, ikan belut di kali dekat kampung. Lalu kami memberikan persembahan kepada leluhur. Kemudian dilanjutkan dengan ritual Teke sebelum acara puncak Etu," jelas Edo.

Para petarung bisa mencapai 20-an orang silih berganti memasuki arena dari sisi utara dan selatan.  Calon lawan dari masing masing petarung dipilih sesuai kemauan dan kesanggupan petarung dengan seorang lelaki sebagai perantara antara kedua kubu hingga terjadi kesepakatan tiap lawan tandingnya. Lado menambahkan usai bertarung, semua petarung harus berdamai.

baca juga: Rapinoe Jadi Sasaran Kecaman Trump

"Kalau seandainya ada yang berbuat kacau kami sudah sepakat ada denda adat, babi ukuran empat pikul (dipikul empat orang) dengan beras 50 kg beras," jelas Lado.

Etu sudah menjadi ritual adat tahunan yang biasa diselenggarakan sekitar Juli dan Juni di Kabupaten Nagekeo. Etu dilaksanakan pada beberapa kampung di tiga kecamatan yakni Boawae dan Aesesa dan Aesesa Selatan. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More