Kamis 27 Juni 2019, 10:32 WIB

Ekonomi Kaltara Diprediksi Tumbuh Lebih Baik

Fetry Wuryasti | Advertorial
Ekonomi Kaltara Diprediksi Tumbuh Lebih Baik

Dok. Pemprov Kalimantan Utara
Gubernur Kalimantan Utara Irianto Lam­brie

PEMERINTAH Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) optimistis ekonomi dae­rahnya pada kumulatif 2019 tumbuh lebih baik daripada tahun sebelumnya. Mereka memprediksi pertumbuhan ekonomi provinsi ke-34 di  Tanah Air ini akan berada dalam kisaran 5,7%-6,1%.

Angka tersebut merupakan proyeksi penghitungan oleh Bank Indonesia  Perwakilan Kaltara. Keyakinan itu didasari dengan membaiknya kinerja  lapangan usaha industri peng­olahan yang bersumber dari komoditas kelapa  sawit (CPO), seiring dengan kenaikan permintaan yang didukung prospek  perbaikan harga pada tahun ini.

Akselerasi kinerja pada lapangan usaha utama pertambangan dan  perdagangan serta meningkatnya kinerja ekspor luar negeri dan konsumsi  rumah tangga menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi Kaltara.

Gubernur Kaltara Irianto Lam­brie mengungkapkan, berdasarkan hasil  Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2018, perang dagang AS-Tiongkok  diperkirakan berdampak pada penurunan aktivitas ekspor-impor kacang  kedelai. Hal tersebut akan membuat Tiongkok mencari sumber minyak nabati alternatif sehingga produk sawit Indonesia dapat menjadi pilih­an yang  tepat.

Tak hanya CPO, dari lapangan usaha konstruksi, berlanjutnya pembangunan  infrastruktur di Kal­tara juga turut menjadi penopang pertumbuhan.  "Akse­lerasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah daerah  diperkirakan tetap tinggi pada 2019," jelas Irianto. Pemerintah dan swasta memiliki beberapa proyek strategis bersifat  multiyears, seperti pembangunan PLTA Kayan Tahap I, Kota Mandiri Tanjung  Selor, RSUD Tipe B Tanjung Selor, rumah sakit Pertamina, gedung perkantoran, serta jalan paralel perbatasan akan menopang pertumbuhan lapangan usaha konstruksi.

Selain itu, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT) dan konsumsi  pemerintah diperkirakan tumbuh lebih tinggi selama masa Pilpres dan  Pileg 2019. Pertumbuhan ekonomi Kaltara pada tahun-tahun mendatang  diharapkan tak lagi hanya mengandalkan pengelolaan sumber daya alam  (SDA) mineral. Daerah juga harus menumbuhkan kegiatan ekspor dan
perdagangan sebagai sumber pertumbuhan.
 

Berkaca dari tahun lalu, tercatat kontribusi pertumbuhan ekonomi  nasional dari kawas­an timur Indonesia paling rendah, termasuk  Kalimantan. Itu karena SDA yang melimpah masih belum mampu dikelola  dengan baik. "Persoalannya, negara ini masih bertumpu pada konsumsi, belum pada produksi. Bila ingin menjadi negara modern, kita harus meng­arahkan  prospek perekonomian kepada ekspor dan perdagangan. Selama ini dua kegiatan tersebut masih terpusat di Pulau Jawa. Pemerintah di masa mendatang harus memiliki upaya untuk mengubahnya," beber Irianto.
 

Pemprov merancang strategi untuk menopang geliat ekspor dan perdagangan  di Kaltara, salah satunya menyediakan infrastruktur kelistrik­an.   "Konstruksi PLTA Kayan I dengan daya sekitar 900 mw dimulai Februari  2019. Semoga ini simultan dengan tahap II dan selanjutnya. Listrik yang  tersedia akan digunakan untuk mengembangkan KIPI Tanah Kuning-Mangkupadi  juga KBM Tanjung Selor dan kepentingan lain," imbuh Irianto.

Batu bara
Meskipun begitu, Irianto meng­akui bahwa aspek pertambangan masih  menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar di Kaltara. Laporan Perekonomian Provinsi Kalimantan Utara per Mei 2019 yang dirilis  Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Kaltara menyebutkan, produksi batu bara diperkirakan mengalami peningkatan seiring dengan masih tingginya  permintaan impor batu bara dari India.
 

Di samping itu, tren pelemah­an harga batu bara yang masih terjadi  diperkirakan menahan tingginya ekspor luar negeri di pertengahan tahun  ini. Berdasarkan hasil liaison dengan pelaku usaha pertambang­an di  Kaltara, kondisi cuaca yang membaik pada triwulan II 2019 akan berdampak pada peningkatan produksi batu bara meskipun korek­si harga diperkirakan  masih terus terjadi.

Hal itu pula yang mendasari keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi  Kalimantan Utara (Kaltara) triwulan II 2019 diperkirakan tumbuh pada  level 7,12%-7,52% (yoy), meningkat jika dibandingkan dengan triwulan I  2019 sebesar 7,13% berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara.
 

Terpantau rata-rata harga harga batu bara acuan (HBA) periode April-Mei  2019 masih turun senilai US$85,43 per metrik ton. "Penurunan HBA yang  terjadi dalam dua bulan terakhir, salah satunya disebabkan merosotnya  indeks Global Coal Newcastle akibat terhambatnya ekspor batu bara Australia ke Tiongkok. Sejak akhir 2018, Tiongkok melakukan pembatasan  impor batu bara," jelas Irianto.


Selain itu, perlambatan perekonomian Tiongkok pada 2019 terjadi seiring  dampak perang dagang pada sektor ekspor, konsumsi domestik, dan sektor industri. "Itu semua turut memberi dampak pada penurunan harga komoditas  batu bara Kaltara," papar Gubernur.
 

Analisis BI juga menyebut bahwa sektor lapangan usaha pertanian,  kehutanan, dan per­ikanan diperkirakan tetap tumbuh positif tapi  melambat pada triwulan II 2019. "Produksi komoditas perikanan  diperkirakan tumbuh meningkat seiring dengan naiknya konsumsi masyarakat memasuki momen HBKN dan menjadi penahan perlambatan lapangan usaha tersebut," ulas Gubernur.

Lapangan usaha lain yang turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi  Kaltara triwulan II 2019, yaitu konstruksi. Mulai berjalannya proyek  pembangunan utama di wilayah Kaltara diperkirakan menjadi faktor  pendorong laju pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan II 2019.

Ditaksir, lapangan usaha konstruksi akan mengalami akselerasi pada  triwulan II 2019. Alasannya, keberlanjutan realisasi proyek gedung,  rumah sakit Pertamina di Tarakan, dan pabrik industri CPO baru di  Malinau dan Nunukan diperkirakan menopang kenaikan kinerja lapang­an  usaha konstruksi.

Selain itu, sektor konstruksi Kaltara juga didorong PLTA Sei Kayan.  Masuknya periode evaluasi belanja pemerintah secara nasional dan daerah  untuk periode tengah tahun ini diperkirakan mendorong realisasi berbagai  proyek yang berpotensi menjadi akselerator pada pertumbuhan ekonomi  lapangan usaha tersebut.

"Lapangan usaha perdagangan dapat tumbuh seiring dengan kenaikan  konsumsi rumah tangga ketika momen Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri  2019," tutup Gubernur. (S4-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More