Kamis 27 Juni 2019, 06:40 WIB

Daniel Kaito Inspirasi dari Jepang

Bayu Anggoro anggoro@mediaindonesia.com | Indonesia 2018
 Daniel Kaito Inspirasi dari Jepang

anggoro
Daniel kaito saat ditemui di salah satu kawasan di bandung utara

Mimpinya membuat cosplay dimulai pada usia 4 tahun. Dia mendapatkan dukungan dari sang ayah. Di masa kini, dialah pembuat cosplay Ultraman, satu di antara empat di dunia.

DANIEL Kaito kecil telah menemukan bakat dan minatnya sejak belia. Minat itu ditunjukkan saat kali pertama dia melihat tokoh Ksatria Baja Hitam. Sejak usia 3 tahun itu, dirinya mulai memupuk imajinasinya yang bertebaran.

Ditemui di kawasan Bandung Utara, Daniel menceritakan awal mula usahanya yang telah dijalani sejak 2013. Dia mengaku telah belajar membuat cosplay sejak usia 4 tahun.

Saat itu, Daniel kecil ditemani sang ayah saat menonton film yang memang sangat populer di kalangan anak-anak Indonesia pada dekade 1990-an itu. Kelak, sang ayah jugalah yang mendukungnya menekuni bisnis cosplay, pembuatan kostum tokoh-tokoh berkarakter superhero dalam film.

"Mulai bikin cosplay umur 4 tahun. Bapak nunjukin film Batman, saat pertama nonton di televisi. Sekali nonton, sudahnya langsung bikin kostumnya dari kantong keresek," kenang pria kelahiran Jakarta itu.

Sejak saat itu, dirinya tidak terobsesi dengan kantong keresek berukuran besar. "Cosplay pertama yang sederhana karena dulu bisanya hanya bikin baju Batman karena filmnya juga kalau bukan Ksatria Baja Hitam, ya Batman," katanya.

Seiring bertambahnya usia, film berkarakter superhero yang ditontonnya pun semakin banyak. Cerita lakon berjudul Ultraman, Kamen Rider, hingga Godzilla pun diikutinya sehingga semakin menambah ketertarikannya pada action figure tersebut.

"Akhirnya, berlatih membuat cosplay sejak kelas 3 SMP, pada 2009. Lihat-lihat di Google," katanya. Dia menambahkan, saat itu di internet belum terlalu banyak referensi pembuatan cosplay.

Berbekal ilmu dan pengetahuan yang minim, eksperimennya itu terus mengalami kegagalan selama 4 tahun berturut-turut. "Cosplay saya enggak ada yang jadi. Setiap bikin kepala, bulet, gagal terus. Sampai dimarahin ayah," ujar Daniel yang tidak menghentikan hobinya dalam membuat kostum superhero itu.

Usaha kerasnya menemukan hasil pada 2013 seiring dengan pendidikannya di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu, dia menjadi pemenang lomba pembuatan cosplay bertemakan Bandung zero waste yang digelar Pemerintah Kota Bandung.

Kemenangan dalam lomba tersebut menjadikan Daniel semakin bersemangat dan serius untuk menekuni bisnis cosplay yang telah dikenalnya selama belasan tahun itu. Langkah itu pun diperkuat pemikirannya yang memang ingin merintis usaha jika dibandingkan dengan berkarier di dunia kerja.

Dia bercerita, saat itu dia mengajak teman kuliahnya untuk menjalankan bisnis tersebut. Hingga akhirnya, dia menggandeng tenaga profesional mengingat cukup rumitnya dalam setiap pembuatan cosplay. "Misalnya, saya ingin yang benar-benar profesional dalam pengecatan," kata dia.

Saat membuat cosplay Kamen Rider, dia hanya memerlukan sejumlah plastik dan busa yang semuanya bisa diperoleh di dalam negeri. Selain karena bahan-bahannya yang murah dan mudah didapat, pengalaman yang masih minim menjadikan dirinya hanya mematok tarif Rp400 ribu untuk setiap cosplay Kamen Rider diciptakannya itu.

Seiring berjalannya waktu serta gencarnya promosi yang dilakukan di internet, permintaan akan pembuatan kostum tersebut pun terus meningkat.

Pilih mahal

Namanya semakin terkenal di kalangan penggemar cosplay dalam negeri setelah diundang salah satu program televisi. Kini, dia mematok harga Rp28 juta untuk cosplay Kamen Rider yang dulu dijualnya Rp400 ribu.

Tingginya harga itu karena dirinya yang memang membidik pasar luar negeri. "Pernah di FB (Facebook) saya tawarin Rp400 ribu. Enggak ada yang beli karena mereka ragu, kok murah. Ya sudah saya jual mahal saja," katanya sambil tertawa.

Selain selera pasar luar yang berani membayar mahal, harga tinggi pun diterapkan karena dirinya membatasi pesanan. Saat ini, Daniel beserta tiga rekannya hanya menerima tiga pesanan dalam setiap bulannya.

Dengan jumlah pesanan itu, saat ini Daniel mampu meraup omzet sekitar Rp100 juta dalam setiap bulannya. "Kami ingin kualitasnya benar-benar maksimal," kata dia.

Selain Kamen Rider, Daniel mengaku saat ini banyak menerima pesanan cosplay Ultraman dari konsumen di luar negeri. Meski dipatok sebesar Rp33 juta, permintaan kepadanya selalu datang.

Saat ini masih sangat jarang pembuat cosplay Ultraman. "Di dunia hanya ada empat, salah satunya saya, tiga lainnya di Taiwan," katanya.

Selain masih jarangnya cosplayer yang ada, tawaran dari luar negeri pun selalu datang karena banyaknya agenda yang dimiliki orang luar negeri itu. "Saat memesan, saya selalu tanya, untuk dipakai di mana. Mereka biasanya pesan kostum untuk halloween party atau untuk festival-festival," katanya.

Bahkan, dia pun pernah mengerjakan pembuatan cosplay untuk kebutuhan syuting film superhero. "Tapi filmnya masih pilot project gitu," katanya. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More