Rabu 26 Juni 2019, 21:40 WIB

Melestarikan Alam lewat Budaya dalam Festival Sindoro-Sumbing

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Melestarikan Alam lewat Budaya dalam Festival Sindoro-Sumbing

Ist
Masyarakat Temanggung dan Wonosobo gelar tradisi Budaya dalam Festival Sindoro-Sumbing

 

SEBAGAI masyarakat dari negara di Kawasan Cincin Api atau Ring of Fire, kehidupan mayoritas penduduk Indonesia terkait dengan keberadaan gunung-gunung dalam lanskapnya yang turut membentuk tradisi dan budaya masyarakat yang tinggal turun temurun di kawasan sekitarnya sedari dulu hingga kini, membentuk tradisi dan budaya adiluhung sebagai bagian dan identitas khazanah budaya Indonesia.

Sindoro-Sumbing sendiri merupakan dua gunung di Indonesia, yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir identik. Keidentikan tersebut tidak hanya berupa pada fisik gunung-gunung tersebut, juga tradisi dan budaya yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakatnya yang terletak di wilayah Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Temanggung.

Kekayaan tersebut merupakan potensi yang dapat dikembangkan untuk mengembangkan daerah. Namun, seperti daerah-daerah lainnya di Indonesia, permasalahan lingkungan juga turut menerpa Sindoro-Sumbing.

Masyarakat Temanggung dan Wonosobo kaya akan kearifan lokal dalam bentuk cerita dan seni pertunjukan rakyat, yang di dalamnya terkandung ajakan dan pesan menjaga lingkungan. Salah satu folklore yang ada di lereng Sindoro-Sumbing, adalah cerita 'Mapageh Sang Watu Kulumpang'.

Tertuang dalam Prasasti Wanua Tengah ialah upacara penutup dari rangkaian 'Manusuk Sima', sebuah upacara penetapan suatu daerah sebagai tanah perdikan (terbebas dari pajak) karena ditetapkan menjadi daerah yang berkewajiban 'Mangreksa Wana' (menjaga hutan).

Sebelum upacara penutup tersebut, masyarakat pada masa itu menggelar rangkaian acara pesta rakyat mulai dari pesta kuliner, pertunjukan kesenian rakyat, dan lain sebagainya, sebagai ungkapan rasa syukur.

"Karena itu, diperlukan sebuah upaya strategis melalui pendekatan kreatif dalam mengemas ajakan menjaga alam di kedua wilayah tersebut dan bersifat kolaboratif antara masyarakat, komunitas, pemerintah, swasta, dan akademisi. Tata kelola kebudayaan menjadi poin penting agar mendapat perhatian khusus semua pihak," kata Kepala Seksi Diaspora Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Darwin, melalui keterangan resmi yang diterima Rabu (26/6).

Salah satu upaya strategis yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung berkolaborasi dengan Kabupaten Wonosobo adalah deklarasi dan penetapan wilayah Sindoro-Sumbing menjadi daerah yang wajib dijaga kelestariannya.


Baca juga: Tambang Batubara Ombilin Masuk Nominasi Warisan Budaya Dunia


Kegiatan tersebut dikemas dalam rangkaian acara bertajuk Festival Sindoro Sumbing 2019 (FSS 2019) dengan tema 'Lestari'. Lestari alamnya, lestari budayanya, lestari masyarakatnya.

Menurut Darwin, penyelenggaraan festival yang dirancang sebagai even unggulan berbasis budaya tentu membutuhkan tata kelola dan manajemen yang baik. Platform Indonesiana melakukan pendekatan pada festival-festival berbasis budaya untuk peningkatan standar tata kelola kegiatan budaya dan manajemen penyelenggaraan kegiatan budaya melalui dukungan atas penyelenggaraan festival-festival di daerah, baik penguatan terhadap festival yang sudah ada sebelumnya maupun mendukung penyelenggaraan festival yang baru yang relevan dengan potensi dan karakter budaya di kawasan masing-masing.

Darwin mengutarakan, platform kebudayaan Indonesiana adalah inisiatif dan upaya yang digelar Ditjen Kebudayaan Kemendikbud untuk mendorong dan sekaligus memperkuat upaya Pemajuan Kebudayaan sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 melalui gotong royong antara pemerintah dan masyarakat dalam penguatan kapasitas daerah untuk menyelenggarakan kegiatan budaya sesuai azas, tujuan, dan objek pemajuan kebudayaan yang ditetapkan dalam UU 5/2017.

Melalui pendukungan pada kegiatan-kegiatan berbasis budaya juga diharapkan dapat menumbuhkan ekosistem kebudayaan yang mengakar kuat pada kearifan-kearifan lokal masyarakat setempat. Dengan berlangsungnya ekosistem kebudayaan yang berkesinambungan, tentunya dapat memastikan kelestarian dan keberlangsungan khazanah budaya di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang dinamis.

Pada penyelenggaraan Festival Sindoro-Sumbing 2019 yang berlangsung sejak 9 Juni hingga 25 Juli 2019 diisi dengan berbagai kegiatan berbasis budaya seperti Ngopi di Pampringan yang mengupas budaya dan ritus minum kopi setempat, Sarasehan Budaya, dan Workshop Kostum Jarang Kepang, Java International Folklore Festival featured: ASEAN Contemporary Dance Festival, Mangreksa Wana 'Mapageh Sang Watu Kulumpang', Bedhol Kedaton, Birat Sengkala dan Parade Tapa Bisu, serta Ruwat Cukur Rambut Gembel dan Pentas Tari Kolosal Topeng Lengger. (RO/OL-1)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More