Rabu 26 Juni 2019, 22:40 WIB

Sampah pun Bisa Membawa Berkah

(Usman Afandi/Benny Bastiandy/N-2) | Nusantara
Sampah pun Bisa Membawa Berkah

ANTARA FOTO/Budi Candra Setya
Anak-anak menukarkan sampah dengan segelas kopi pada kegiatan yang digelar Forum Banyuwangi Sehat (FBS) di GOR Tawang Alun, Banyuwangi

 

PENYUKA kopi di Banyuwangi, Jawa Timur, mulai rajin mengumpulkan sampah. Di sana, sampah bisa dijadikan alat bayar pengganti uang. Ialah Forum Banyuwangi Sehat (FBS) yang menjual kopi ditukar dengan sampah. “Kita ingin mengedukasi kepada masyarakat bahwa sampah itu memiliki nilai ekonomis,” ujar Pengurus FBS, Waluyo, kemarin.

Beragam kopi bisa ditukarkan dengan sampah, mulai kopi lokal Banyuwangi hingga kopi Nusantara. Gerobak tempat ngopi yang didesain kekinian membuat peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) ke XVIII tak canggung datang ke sana.

Selain pengunjung bisa membeli kopi dengan menukar sampah, mereka juga bisa membuat kopi sendiri secara langsung dengan dibantu anggota dari FBS. Mereka bisa merasakan proses pembuatan kopi alami, meracik, dan menikmatinya.  Di sini, kopi yang benar-benar kopi dikenalkan.

Mohammad Chairul Rohman, peserta PIRN, menilai gerakan ini patut ditularkan. Pelajar dari SMA negeri di Jakarta Utara mengaku terinspirasi. “Minimal akan saya tiru di sekolah saya,” tekadnya.

Di Sukabumi, Jawa Barat, Iis Salsiah tak menyangka aksi memungut sampah saat mengantre panggilan melamar kerja di job fair di Lapang Prawatasari, Joglo, Cianjur, berujung pada masa depannya. Aksi gadis berusia 18 tahun asal Kecamatan Cugenang itu mendapat perhatian Pelaksana Tugas Bupati Cianjur, Herman Suherman.

“Alhamdulillah, saya bangga masih ada yang peduli kebersihan lingkungan,” kata Herman.

Sebelum membuka acara, Herman mengaku risih melihat banyaknya sampah bekas makanan dan minuman berserakan. Dari ribuan pencari kerja, hanya satu orang yang peduli memunguti sampah. Sebagai bentuk penghargaan, Herman memerintahkan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat berkoordinasi dengan perusahaan untuk memprioritaskan Iis Salsiah mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tanpa proses seleksi. (Usman Afandi/Benny Bastiandy/N-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More