Rabu 26 Juni 2019, 09:07 WIB

Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Hingga 1,3 Kilometer

Ardi Teristi, Agus Utantoro | Nusantara
Gunung Merapi Luncurkan Awan Panas Hingga 1,3 Kilometer

ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho
Warga melihat pemandangan Gunung Merapi di kawasan Magelang, Jawa Tengah

 

SEISMOGRAF milik Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat awan panas guguran Gunung Merapi dengan amplitudo 60 mm dan durasi 136 detik pada 26 Juni 2019 pukul 06:05 WIB. Status Merapi tetap dipertahankan di level waspada.

"Jarak luncur 1.350 m ke arah hulu Kali Gendol," tulis akun media sosial  resmi BPPTKG di Twitter @BPPTKG. BPPTKG tetap mempertahankan status Merapi Waspada sejak 21 Mei 2018.

BPPTKG juga mencatat aktivitas gunung setinggi 2968 mdpl pada 26 Juni 2019 dari pukul 00:00 sampai 06:00 WIB. Guguran terjadi sebanyak 8 kali dengan amplitudo 3-35 mm dan durasi 33.8-98 detik.

Secara visual, gunung terlihat jelas. Asap kawah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 50 m di atas puncak kawah.

Dari Closed-circuit television (cctv) teramati 4 x guguran lava dengan jarak  luncur 450 - 1000 meter ke hulu Kali Gendol.

Baca juga: Selama 12 Jam, Terjadi 11 Kali Guguran Lava Merapi

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi  (BPPTKG) Hanik Humaida menyampaikan BPPTKG merekomendasikan area dalam  radius 3 km dari puncak Gunung Merapi agar tidak ada aktivitas manusia.

"Masyarakat dapat beraktivitas seperti biasa di luar radius 3 km dari puncak Gunung Merapi," kata dia.

Masyarakat juga diimbau agar mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.

Informasi terkait aktivitas Gunung  Merapi dapat diakses melalui radio komunikasi pada frekuensi 165.075 Mhz,  melalui telepon (0274) 514180/514192, website www.merapi.bgl.esdm.go.id,  dan media sosial BPPTKG (Facebook: infobpptkg, Twiter: @bpptkg). (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More