Rabu 26 Juni 2019, 08:45 WIB

Satu lagi Bukti KPPS tidak Diracun

Putra Ananda | Politik dan Hukum
Satu lagi Bukti KPPS tidak Diracun

MI/SUSANTO
Tim Kajian Lintas Disiplin Abdul Gaffar Karim.

 

KEMATIAN 527 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) seusai pemungutan suara sempat mencuatkan banyak isu penyebab kematian. Di antaranya, isu bahwa mereka telah diracun sebagai bagian dari skenario untuk memenangkan paslon tertentu.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah melakukan investigasi demi menguak lebih jelas penyebab kematian ratusan KPPS. Hasilnya, tidak ada satu pun yang meninggal karena diracun. Para petugas pemilu itu meninggal oleh 13 macam penyakit, mulai dari gagal jantung hingga kegagalan multiorgan. Ada pula yang meninggal karena kecelakaan.

Hasil investigasi Kemenkes di 28 provinsi yang ditemukan kematian KPPS itu diperkuat peneliti independen. Tim peneliti yang berasal dari Kajian Lintas Disiplin Fakultas Universitas Gajah Mada (UGM), kemarin, mengungkap meninggalnya ratusan KPPS murni karena faktor yang bersifat alamiah.

"Kematian yang terjadi itu karena sifat alamiah yaitu faktor kelelahan dengan beban kerja yang berat. Jadi tidak sama dengan rumor politik terkait adanya rekayasa dan petugas yang diracun," tutur peneliti asal UGM Abdul Gaffar Karim di Kantor KPU, Jakarta, kemarin.

Penelitian itu mengungkap tingginya beban kerja menjadi faktor utama meninggalnya petugas KPPS. Rata-rata beban kerja petugas KPPS mencapai 20 hingga 22 jam. Selain itu 80% petugas KPPS yang meninggal ternyata memiliki riwayat penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah.

"Sakit dan meninggalnya petugas karena beban kerja yang sangat panjang menjelang hari pemilihan," ungkapnya Gafar.
Peneliti lain Riris Andono Ahmad menjelaskan penelitian ini menggunakan 3 metodologi. Verbal autopsi untuk mencari penyebab kematian, survei potong lintas di tempat pemungutan suara (TPS), serta penelitian kasus kontrol untuk mengetahui penyebab sakit.

Diungkapkan Doni, sapan Riris Andono, berdasarkan hasil verbal otopsi oleh dokter spesialis forensik ditemukan fakta 8 dari 10 petugas KPPS yang meninggal memiliki riwayat penyakit diabetes, hi-pertensi, dan jantung.

"90% dari mereka ialah perokok. Setiap kasus kematian yang ditemukan didiskusikan dengan para panel ahli dan disimpulkan penyebab kematian karena faktor alamiah," tutur Doni.

Ada pekerjaan utama
Berdasarkan penelitian tim UGM tersebut, rata-rata petugas memiliki pekerjaan utama selain menjadi petugas KPPS. Hal tersebut membuat waktu istirahat para petugas KPPS menjadi semakin sedikit. Kurangnya istirahat menyebabkan para petugas kelelahan dan jatuh sakit.

"Beban kerja terberat terjadi saat hari pencobolosan suara dengan persentase 80% bekerja dan 20% istirahat. Sementara 1 hari sebelum pemilu 70% kerja 30% istirahat, dan 1 hari setelah pemilu 60% kerja 40% istirahat," tuturnya.

Lebih lanjut tim menilai lemahnya manajemen krisis menjadi masalah bagi petugas KPPS dalam Pemilu 2019 sehingga menyebabkan beberapa petugas sakit bahkan meninggal.

"Manajemen krisis tidak berjalan baik di lapangan sehingga ketika ada masalah di luar yang direncanakan, para petugas tidak tahu bagaimana cara menindaklanjutinya. Ketika ada petugas yang sakit tidak ada yang tahu mekanisme untuk menanganinya sehingga berujung pada kematian," terang Abdul Gaffar. (Ant/P-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More