Rabu 26 Juni 2019, 08:30 WIB

Penembak Korban 22 Mei masih Ditelusuri

Putri Rosmalia Octaviyani | Politik dan Hukum
Penembak Korban 22 Mei masih Ditelusuri

MI/Ramdani
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto.

 

MENTERI Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto membantah bahwa penyelidikan mengenai penyebab korban tewas pada kerusuhan 22 Mei jalan di tempat. Ia mengatakan proses terus berjalan dan pada dasarnya tak ada yang perlu diributkan terkait dengan hal tersebut.

"Jalan di tempat, siapa bilang, proses terus jalan itu," ujar Wiranto di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.

Ia menjelaskan mereka yang meninggal ialah yang melakukan penyerbuan ke instansi Brimob. Bukan meninggal di arena demonstrasi yang damai.

"Saya berulang-ulang katakan itu. Ini bedakan dulu lah, bukan meninggal di arena demonstrasi damai. Artinya tidak ada kesewenangan polisi dalam menghadapi demonstrasi damai," ujar Wiranto.

Ia mengatakan, saat ada perusuh yang menyerang petugas, ada perlakuan dan prosedur berbeda. Wiranto menyatakan sudah dipastikan bahwa yang meninggal ialah mereka yang berada saat penyerbuan perusuh ke instalasi-instalasi kepolisian.

"Soal kemudian nanti terbunuhnya bagaimana, yang menembak siapa, pelurunya dari mana, jaraknya bagaimana. Pemeriksaan proyektil itu tidak cepat, ya. Itu pakai pemeriksaan di laboratorium. Lama, lama memang, sehingga kita juga menunggu," ungkap Wiranto.

Sebelumnya, Wiranto memastikan bahwa Kemenko Polhukam bekerja maksimal untuk menyelidiki kerusuhan 21 dan 22 Mei yang memakan korban jiwa. Ia mengatakan tak hanya melibatkan instansi pemerintah, penyelidikan juga dilakukan dengan melibatkan Komnas HAM. Wiranto menyebutkan Polri akan bekerja sendiri dalam menginvestigasi kerusuhan tersebut. Demikian pula Komnas HAM. Masing-masing akan melengkapi data untuk menyelesaikan penyelidikan tersebut.

Terpisah, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menyebut personel Brimob melakukan pelanggaran HAM berlapis di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta. Insiden itu terjadi pada aksi massa pada 21-23 Mei.

Menurut dia, informasi itu merupakan temuan awal investigasi dalam rangka menyambut hari internasional PBB. Amnesty International, diakuinya, melakukan wawancara terhadap sejumlah saksi, korban, dan keluarga korban dalam investigasi selama satu bulan. "Kesimpulan tersebut juga diperkuat bukti video yang diterima dan diverifikasi tim fakta Amnesty International (Digital Verification Corps) di Berlin, Jerman," ujar Usman, kemarin.

Dengan momentum Hari Dukungan untuk Korban Penyiksaan Internasional 2019, imbuh dia, Amnesty International meminta negara melakukan investigasi, membawa personel Brimob yang diduga terlibat penyiksaan ke muka hukum, serta memberikan pemulihan kepada para korban.  (Pro/Gol/X-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More