Rabu 26 Juni 2019, 09:00 WIB

Akan Ada Diplomat-Intelijen Narkoba di Beberapa Negara

Ferdian Ananda Majni | WAWANCARA
Akan Ada Diplomat-Intelijen Narkoba di Beberapa Negara

MI/Susanto
Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Pol. Heru Winarko

IKHTIAR yang dilakukan pelbagai pihak tidak akan berhenti dalam memutus mata rantai peredaran narkoba di Tanah Air. Bahkan, generasi muda yang rentan dengan pengaruh barang haram tersebut menjadi titik fokus pemerintah.

Dalam memperingati Hari Antinarkotika Internasional (HANI) 2019, yang bertema Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas, Badan Narkotika Nasional (BNN) terus melakukan upaya pencegahan, pemberantasan, dan pemberdayaan masyarakat. Lebih jauh, Kepala BNN Komjen Heru Winarko, menjelaskan banyak hal kepada wartawan Media Indonesia, Ferdian Ananda Majni, di kantornya, pekan lalu.

Bagaimana dengan perkembangan peredaran gelap narkotika di Indonesia?
Penyelundupan narkotika ke Indonesia sampai dengan saat ini sekitar 80% masih dilakukan melalui jalur laut. Narkoba tersebut berasal dari Tiongkok, Malaysia, India, golden triangle (Thailand, Vietnam, Kamboja), Timur Tengah (Qatar, UEA, Iran, Suriah), golden crescent (Afghanistan, Pakistan, Inggris, Turki), dan golden peacock (Amerika). Berdasarkan data yang kami miliki pada 2018, BNN telah mengungkap sebanyak 967 kasus tindak pidana narkotika dengan total barang bukti 3,4 ton sabu, 1,39 ton ganja, 469.619 butir ekstasi, dan lain sebagainya.

Apa saja tantangan terberat dalam memberantas peredaran narkoba?
Tantangan saat ini yang dimiliki BNN, selain modus penyelundupan yang semakin beragam, yaitu ancaman siber atau penjualan narkotika dilakukan melalui online, ancaman keterlibatan aparat dalam peredaran gelap narkoba, dan lembaga pemasyarakatan (LP) yang penuh dengan terpidana kasus narkoba sehingga LP menjadi sarang narkoba.

Daerah mana yang paling rentan dengan peredaran narkoba?
Jaringan narkotika di Indonesia telah sampai ke pelosok daerah dan desa. Target pasarnya pun tidak lagi usia dewasa, tetapi juga anak-anak. Beberapa daerah yang masuk kategori rawan/kampung narkotika, di antaranya Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Kepri, Riau, Sulteng, Kalbar, Sumsel, Sumut, dan Aceh.

Bisa dijelaskan terobosan BNN untuk memberantas narkoba?
BNN melakukan berbagai strategi dengan mengacu pada balance approach atau kebijakan berimbang melalui pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba (P4GN). Berbagai strategi di antaranya pada bidang pencegahan dengan membangun sistem dan kemampuan masyarakat menjaga diri, keluarga, dan lingkungan. Pada bidang pemberantasan, yakni dengan memperkuat kerja sama, mencegah narkotika dari luar negeri masuk dengan pendekatan active defense, dan memaksimalkan penindakan pada peredaran serta tindak pidana pencucian uang (TPPU) dari tindak kejahatan narkotika. Pada bidang rehabilitasi, yaitu dengan membangun sistem rehabilitasi yang komprehensif dan terus memperbaiki kualitas layanan rehabilitasi.

Apa langkah pencegahan BNN dengan active defense?
Untuk mencegah penyelundupan narkoba ke wilayah Indonesia, kami harus memutus jalur peredaran gelap narkotika sejak di luar negeri, baik di negara produksi maupun negara transit. Hal tersebut dapat dilakukan BNN bila memperoleh informasi terkait. Karenanya, kami melakukan pendekatan active defense dengan mengunjungi beberapa negara untuk membangun sistem dan kerja sama, khususnya dalam pertukaran informasi. Selain itu, BNN juga berharap ke depan akan ada diplomat-intelijen narkoba di beberapa negara.

Bagaimana kasus narkoba yang kini sudah menyentuh generasi milenial?
Peredaran narkoba yang begitu masif telah terjadi dengan target pasar di semua usia. Hal tersebut terlihat hasil penelitian BNN bersama Puslitkes UI 2017 yang menunjukan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 3,3 juta jiwa dengan rentang usia 10-59 yang berarti merupakan usia produktif. Sekitar 27,32% di antara mereka tergolong pelajar atau generasi milenial. Oleh sebab itu, BNN terus melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan generasi milenial yang merupakan aset masa depan bangsa dengan strategi yang telah dijelaskan sebelumnya.

Banyak bandar dan pengedar narkoba ditangkap di apartemen. Adakah langkah khusus?
Terkait dengan maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang memanfaatkan apartmen, BNN melakukan MoU dengan pengurus apartemen, khususnya di Jakarta, untuk secara aktif bekerja sama, baik dalam melakukan pencegahan maupun kooperatif dalam penindakan bila terjadi tindak pidana narkotika di apartemen tersebut.
Saat ini ada beberapa pengembang kawasan apartemen yang menghadap ke kami. Saya sudah berbicara dengan para pengelola properti supaya ikon mereka itu ialah kawasan yang bersih dari narkoba. Hitungan saya ke depan, jika pengelola tidak bisa menjamin itu, pasti orang tidak akan membeli lagi apartemen itu. Nah, ini telah dirasakan sehingga beberapa pengelola apartemen ke sini. Saya ajak mereka agar menjadikan kawasan itu menjadi ikon wilayah bersih narkoba.

Kabarnya produksi narkoba banyak didatangkan dari Tiongkok. Bisa dijelaskan secara detail tentang hal tersebut?
Dari Januari lalu, telah ditangkap hampir 80 ton. Jadi, yang tidak terkontrol itu prekursor yang bisa masuk di perbatasan Malaysia atau yang ke Myanmar Utara karena di sana produsen terbesar. Malaysia banyak kirim atau lepas sabu ke sini. Rupanya di sana sabu tidak banyak penggunanya karena mereka fokus ke heroin. Jadi tidak sama.
Seperti di Cirebon, tidak ada sabu. Yang ada hanya obat-obat. Di wilayah Bogor, banyaknya ganja jarang ada sabu. Market-nya ada sehingga kami lakukan mapping dan bisa dilihat. Bertemu siapa saja, saya positive thinking mengajak kerja sama karena Malaysia juga punya permasalahan yang sama.
 Tiongkok juga luar biasa bagus dalam kampanye. Dari penguna 3 juta orang, sekarang turun jadi 1,3 juta. Padahal, 1 miliar lebih penduduknya. Kita perlu belajar.

Caranya?
Rupanya mereka melakukanya kampanye melalui media. Konten mereka didukung pengusaha di sana. Aplikasi Wechat yang digunakan anak-anak muda di sana berisi tentang kampanye bahaya narkoba semua.
Jadi, penguna mereka terus menurun, kita harus banyak melakukan networking biar tahu caranya. Mereka juga punya kekuatan. Namanya big data, bagaimana kita jadikan satu data kita.

Angka pengguna turun di Tiongkok sehingga pasarnya beralih ke Indonesia?
Bisa jadi, karena mereka ketat. Saya mengajak bagaimana mencegah, terutama masalah prekursor karena kalau sudah masuk bisa dipakai untuk macam-macam, tinggal dicampur-campur jadi.

Dapat digambarkan jaringan narkoba di LP?
Tadi saya bilang, market-nya paling banyak di Jawa. Namun, pengendaliannya sebagian besar di LP. Karenanya, kami bekerja sama dengan LP karena di sana banyak operator besar. Jadi, saya berkoordinasi dengan Dirjen PAS agar mereka dipindahkan ke Nusakambangan.
Ini juga penyebab di Aceh dan Medan banyak rusuh. Itu karena memang operator atau bandar besar itu dipindahkan, mereka banyak reaksi. Jadi, kita pindahkan ke wilayah dengan pengawasan supermaksimum sehingga mereka tidak bisa berbuat apa lagi.
Selama ini mereka yang mengendalikan, bahkan wi-fi masuk ke LP. Mereka lebih nyaman di LP karena tidak ditangkap polisi lagi atau berisiko ditembak.

Terkait dengan anggaran, apa memang dibutuhkan alokasi khusus?
Harusnya, kemarin sudah kami ajukan tambahan anggaran, termasuk anggaran TI, tetapi sesuai kemampuan negara. Kalau bisa memang lebih besar, kita ajukan cukup signifikan. Bahkan, pengawai juga ada kenaikan gaji. Begitu juga petugas di lapangan dilengkapi credit card sehingga mereka lebih mudah bertugas, tidak perlu lagi mengunakan uang tunai. (Fer/S4-25)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More