Iran Kutuk Sanksi Baru AS

Penulis: Denny Parsaulian Sinaga denny@mediaindonesia.com Pada: Rabu, 26 Jun 2019, 04:40 WIB Internasional
Iran Kutuk Sanksi Baru AS

(Photo by - / Iranian presidency / AFP) /
Rouhani mengatakan bahwa sanksi baru AS terhadap pejabat senior Iran termasuk diplomat terkemuka Mohammad Javad Zarif

IRAN mengutuk langkah Amerika Serikat yang telah menjatuhkan sanksi baru terhadap para pemimpinnya. Langkah tersebut, ungkap Teheran, menandakan telah berakhirnya upaya diplomasi dengan Washington. Apalagi setelah Presiden Donald Trump mengancam akan menghancurkan negara itu.

Tokoh-tokoh Iran yang masuk daftar hitam AS itu antara lain pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, para panglima militer, serta Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif yang sebetulnya berhaluan moderat.

"Ini adalah langkah keras yang tepat terhadap Iran yang terus melakukan provokasi," kata Presiden AS Donald Trump setelah menandatangani dokumen sanksi itu di Gedung Putih, kemarin.

"Kami tidak mau berperang. Sanksi ini bisa saja segera diakhiri atau berjalan bertahun-tahun, tergantung respons Iran," tambahnya.

Langkah Washington itu dilakukan setelah Iran menembak jatuh pesawat mata-mata tanpa awak AS minggu lalu. Trump lalu berniat melancarkan serangan balasan yang dibatalkannya pada menit-menit terakhir. Sebelumnya juga terjadi serangan terhadap beberapa kapal tanker di perairan Teluk yang menurut AS dilakukan Iran.

'Pemerintahan Trump menghancurkan semua mekanisme internasional yang tepat untuk menjaga perdamaian dan keamanan global', tulis juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Abbas Mousavi, di Twitter, kemarin.

Di sisi lain, Presiden Iran Hassan Rouhani menyebut sanksi baru tersebut menunjukkan Washington berbohong tentang tawarannya.

"Pada saat yang sama ketika menyerukan negosiasi, lalu Anda berusaha untuk menjatuhkan sanksi terhadap menteri luar negeri? Jelas bahwa Anda berbohong," kata Rouhani yang disiarkan langsung di televisi Iran.

Komentar Rouhani itu berkaitan dengan perkataan penasihat keamanan nasional AS, John Bolton, yang menyebut AS sudah 'membuka pintu untuk bernegosiasi', tapi 'Iran tidak mau memberi respons'.

Memperburuk situasi

Negara besar lainnya seperti Tiongkok mendesak semua pihak untuk tenang dan menahan diri menyusul memanasnya ketegangan antara AS dan Iran.

"Kami percaya bahwa menerapkan tekanan maksimum secara membabi buta tidak akan membantu menyelesaikan masalah," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Geng Shuang, saat konferensi pers di Beijing, kemarin.

"Fakta telah membuktikan bahwa tindakan ini malah menghasilkan efek sebaliknya dan memperburuk situasi regional," tambahnya.

"Kami berharap bahwa pihak-pihak terkait akan tetap tenang dan menahan diri dan menghindari eskalasi ketegangan lebih lanjut," harap Geng.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menyatakan akan memanfaatkan pertemuannya dengan Trump pada KTT G-20 nanti untuk mendesak 'tercapainya solusi konstruktif yang akan menjamin keamanan regional'.

Adapun sekutu Iran, yakni Rusia, menuduh Washington bertindak gegabah. Menurut Kemenlu Rusia, pemerintah AS harus sadar bahwa tindakan gegabah ini bisa berdampak luas.

Sementara itu, Dewan Keamanan PBB meminta dibukanya dialog demi mengakhiri ketegangan di kawasan Teluk. (AFP/X-11)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More